Tampilkan postingan dengan label belajar agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar agama. Tampilkan semua postingan
1.1 Kedudukan Shalat dalam Islam

1.Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima, ia adalah amal yang paling utama setelah dua kalimah syahadat, hal itu didasarkan kepada hadits Rasulullah SAW,
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.
Islam itu dibangun di atas lima pondasi, yaitu, persaksian bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan shalat, haji dan shaum Ramadhan. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi Ahmad dan yang lainnya.)

2. Sholat merupakan tiang agama, ketika sholat itu didirikan, maka kesilaman seseorang akan menjadi kuat, akan tetapi manakala shalat itu ditinggalkan atau dilalaikan (pelaksanaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya), maka keislaman seseorang pun akan hancur.

مَنْ أَسْلَمَ سَلِمَ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.
Barangsiapa yang masuk Islam, maka ia akan selamat, dan tiangnya (Islam) adalah sholat, sedangkan yang meninggikan martabatnya adalah jihad fi sabilillah." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah Ahmad, Hakim Thabrani dan Baihaqi)

3. Shalat merupakan amalan pertama kali yang akan dihisab pada hari kiamat, sebagaimana dalam sabda Nabi SAW,
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلاَتُهُ ، فَإِنْ كَانَ أَكْمَلَهَا كُتِبَتْ لَهُ كَامِلَةً ، وَإِنْ لَمْ يُكْمِلْهَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِمَلاَئِكَتِهِ : هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِى تَطَوُّعًا تُكَمِّلُوا بِهِ مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَتِهِ.
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya, maka dituliskan baginya pahala yang sempurna, dan jika tidak menyempurnakannya, maka Allah berfirman kepada para Malaikat,”Apakah kalian mendapati pada hamba-Ku itu amalan sunnah, sehingga kalian menyempurnakan dengannya apa-apa yang kurang dari amalah yang wajibnya.(HR. Ahmad dan Baihaqi)

4. Shalat merupakan penghapus dosa, Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّه.ُ
Tidak ada seorang Muslim yang datang menghadiri shalat wajib, lalu ia membaguskan (menyempurnakan) wudlunya, kekhusyuannya dan rukunya, melainkan shalatnya itu akan menjadi kifarat (penghapus) atas dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya, selama ia tidak mengerjakan dosa besar, dan hal itu berlaku untuk sepanjang zaman. (HR. Muslim, Ahmad dan yang lainnya)

1.2 Philosofi Shalat
1.2.1 Untuk Mengingat Allah

Shalat merupakan sarana untuk mengingat-ingat karunia Allah yang sedemikian banyak, termasuk diri kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Maka sebagai rasa terima kasih atau rasa syukur kita kepada-Nya.
Allah SWT berfirman,
إِنَّنِى أَنَا اللهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي.
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha (20) :14)

1.2.2 Mencegah dari Perbuatan Keji dan Munkar
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
Dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.(QS. Al-Ankabut (29) : 45)

1.3 Makna-makna Batin dalam Shalat
Yang dimaksud makna bathin dalam shalat adalah menghadirkan hati atau khusyu’ di dalam shalat. Menghadirkan hati dalam shalat merupakan penyempurna untuk nilai shalat di hadapan Allah SWT, sehingga shalat yang hanya memenuhi syarat dan rukun saja tanpa menghadirkan hati di dalamnya, maka shalat tersebut hanya berstatus sah saja secara hukum. Adapun kualitas nilainya akan sangat ditentukan dengan sampai sejauh mana kehadiran hati di dalam shalat tersebut. Semakin sanggup seorang hamba menghadirkan hati dalam shalatnya, maka shalat tersebut akan semakin bernilai di sisi Allah SWT, demikian pula sebaliknya.

Di antara ayat al-Qur’an yang mengharuskan kehadiran dalam shalat, di antaranya :
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ.
Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf (7) :205)

Dari ayat di atas, terlihat jelas bahwa orang yang melaksanakan shalat dituntut untuk senantiasa berupa menghadirkan bathin atau hati dalam shalat,; karena ketika hati itu lalai dalam shalat, berarti makna, hakikat dan kekhusyuan shalat tersebut tidak tercapai. Dan itu semua tidak bisa terealisasi, maka akan berdampak kepada kerusakan prilaku sehari-hari. Imam Al-Ghazali mengatakan,”Apabila hati itu khusyu’ dalam shalat, maka anggota badan atau tingkah laku sehari-hari akan menjadi baik.”.
Ketika tingkah laku seseorang dalam kesehariannya belum baik, berarti kualitas kekhuysuan shalatnya harus ditingkatkan; karena shalat yang sesungguhnya harus mampu memberikan pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari.

1.4 Sebab-Sebab Makna Bathin
Di antara sebab-sebab yang dapat menghadirkan makna bathin dalam shalat adalah ;
 Memahami bacaan shalat setelah menghadirkan hati di dalamnya, akan ditentukan dengan keseriusan dalam memalingkan pikiran dan ingatan untuk mengetahui makna bacaan shalat tersebut, dan berupaya untuk mengendalikan hati yang telah dihadirkan dalam shalat itu dari hal-hal yang dapat memalingkannya.

 Mengagungkan Allah. Mengagungkan Allah merupakan keadaan hati yang muncul dari dua kesadaran, yaitu : pertama, menyadari keagungan Allah SWT dan ketinggian-Nya, di mana itu merupakan dasar keimanan; karena sesungguhnya orang yang tidak menyadari keagungan Allah SWT, maka akan sangat sulit untuk menundukkan dirinya agar mengagungkan-Nya. Kedua, menyadari kehinaan diri dan kekotorannya, karena dengan kesadaran itu seorang hamba akan terdorong untuk mengagungka Allah SWT, setelah menyadarai betapa Allah itu maha agung dan maha tinggi.

 Al-khouf atau takut akan adzab Allah SWT, ini adalah keadaan hati seorang hamba yang muncul setelah hamba tersebut mengetahui dan meyakini kekuasaan Allah SWT, dan menyadari pula bahwa kekuasaan Allah itu tidak akan pernah berkurang.

 Ar-Raja` (mengharap rahmat Allah SWT). Penyebab munculnya ar-Raja` adalah meyakini dan menyadari kelembutan Allah dan kemuliaan-Nya serta nikmat-Nya yang menyeluruh, termasuk janji Allah Allah SWt bagi hamba-hamba-Nya yang melaksanakan shalat (surga). Apabila keyakinan tersebut telah didapatkan, melalui janji dan pengetahuan akan kelembutan-Nya, niscaya keduanya akan melahirkan ar-Raja` dalam hati.

 Al-Hayaa` (merasa malu). Perasaan malu akan muncul dalam hati seseorang apabila mengetahui dan menyadari kekurangan diri dalam ibadah, termasuk dalam menjalankan shalat. Munculnya rasa malu juga diperkuat oleh kesadaran diri terhadap aib dan kelalaian-kelalaian yang dilakukannya serta ketidak-ikhlasan dalam beramal. Maka semakin sering orang melakukan kemaksiatan berarti ia semakin tidak menyadari kekurangannya, dan pada gilirannya akan semakin tidak malu untuk melakukan berbagai kemaksiatan, dan ketika itu terjadi, berarti ia tidak malu lagi dengan Yang Maha Kuasa.

1.5 Hal-hal yang Dimakruhkan dalam Shalat
Untuk mendapatkan kesempurnaan shalat dari sisi hukum, bukan hanya syarat, rukun atau sunnah-sunnah yang harus diperhatikan, akan tetapi hal-hal yang dimakruhkan di dalam shalat juga harus diperhatikan. Adapun hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat itu di antaranya :

1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah SAW
مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ.
"Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat peng-lihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendak-lah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), nis-caya akan tersambar penglihatan mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)

2. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiallaahu anha. Aku ber-tanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam tentang seseorang yang me-noleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الِالْتِفَاتِ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ.
"Itu adalah pencurian yang dilakukan syaitan dari shalat seorang hamba." (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud, lafazh ini dari riwayatnya)

3. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW
عَنْ مُعَيْقِيبٍ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْحَ فِي الْمَسْجِدِ يَعْنِي الْحَصَى قَالَ إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَوَاحِدَةً
"Dari Mu'aiqib, ia berkata, 'Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, 'Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja'." (HR. Muslim)

4. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar, dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ.
"Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar." (HR. Muslim)

1.6 Cara untuk Menghadirkan Hati dalam Shalat
Sesungguhnya, seorang Mukmin harus senantiasa mengagungkan Allah SWT, takut akan adzab-Nya, selalu mengharap rahmat-Nya dan merasa malu atas kelalaian dirinya. Keadaan ini tidak akan hilang setelahnya seorang hamba memiliki sebuah keyakinan yang kuat, karena semuanya muncul dari sebuah keimanan, maka keimanan yang kuat akan menjadi dasar untuk memunculkan semua sikap tersebut. Ketika itu semua (mengagungkan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya dan rasa malu kepada-Nya) tidak ada didalam sholat, maka akan mengakibatkan lalainya hati dari shalat itu sendiri, dan tidak ada yang melalaikan hati dari shalat, kecuali urusan-urusan yang bersifat duniawi.

Maka tidak ada obat lain untuk dapat menghadirkan hati dalam shalat, kecuali membentengi hati dari urusan-urusan duniawi, khususnya ketika akan melaksanakan shalat, termasuk ditengah-tengah pelaksanaan shalat; karena hati ini terkadang dipermulaan amal khusyu’, akan tetapi di tengah-tengah pelaksanaan amal menjadi berubah. Sehingga pengawasannya pun harus dilakukan sejak awal, ditengah-tengah dan di akhir pelaksanaan amal, hal tersebut diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali.

1.7 Kisah Teladan Seputar Shalat

• Sa’id bin Al-Musayyab, seorang pembesar Tabi’in, ia memiliki perhatian yang sangat besar terhadap shalat lima waktu, ia tidak pernah mendengar adzan kecuali dirinya telah siap untuk sholat berjama’ah di mesjid. Pada suatu ketika ia ditimpa sakit dan menghantarkannya keharibaan Allah AWT, pada saat ia sakarotul maut , putrinya menangisi keadaan beliau, akan beliau masih sempat memberikan semangat kepada putrinya dengan perkataannya: wahai putriku janganlah engkau menangisi kematianku, karena sesungguhnya aku sejak empat puluh tahun tidak pernah mendengar seorang muadzin melantunkan adzan di mesjid, kecuali aku telah berada di dalam mesjid untuk sholat berjamaah.

• Dikisahkan, seorang zahid yang ahli ibadah (Al-Ahmasy), ia selalu memotivasi puterinya untuk selalu memelihara shalat dengan melaksanakannya diawal waktu. Pada suatu hari, ia berkata kepada puterinya,”Demi Allah, wahai puteriku! Aku tidak pernah ketinggalah takbiratul ihram untuk shalat berjamaah selama empat puluh tahun.”

• Dari kisah-kisah di atas, kita bisa melihat semangat Ulama Salaf dalam melakukan ibadah (shalat) diawal waktu. Bagi mereka shalat bukan hanya sebagai kewajiban, akan tetapi mereka menganggapnya sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda, sehingga mereka tidak rela kalau harus ketinggalan shalat berjamaah di mesjid.

Posted on 8/01/2012 04:26:00 PM by Unknown

No comments

PENGERTIAN PUASA: Menahan diri dari perkara-perkara tertentu dengan niat, dari terbit fajar kedua/subuh hingga terbenam total matahari.
HIKMAH PUASA, antara lain:
a. Melatih sifat jujur dan amanah, sebab puasa adalah rahasia antara hamba dengan Allah subhanahu wata’ala
b. Melatih sifat sabar dan pengendalian diri, sebab puasa melemahkan jalan syaitan
c. Membiasakan zuhud terhadap dunia
d. Menumbuhkan kasih sayang kepada orang-orang miskin
e. Memberi manfaat kesehatan

ORANG YANG WAJIB PUASA:
Islam, baligh, berakal (waras), mampu, muqim, sehat.
ADAB-ADAB PUASA:
1. Makan sahur
2. Makan sahur dengan kurma
3. Menunda makan sahur hingga akhir waktu
4. Menyegerakan berbuka
5. Berbuka dengan ruthab (kurma segar), atau tamr (kurma kering), atau air putih
6. Do’a ketika sedang puasa dan setelah berbuka
7. Menjaga diri dari segala bentuk maksiat dan dosa
8. Shadaqah
9. Membaca Al Qur’an
10. Bersungguh-sungguh dan meningkatkan ibadah pada sepuluh terakhir Ramadhan
11. I’tikaf
12. Siwak
13. Tidak berlebih-lebihan dalam berkumur atau membasuh hidung ketika berwudhu’
14. Tidak mendahului Ramadhan dengan puasa nafilah satu atau dua hari
RUKUN-RUKUN PUASA:
1. Niat. Untuk puasa wajib, harus niat sebelum masuk waktu shalat subuh
2. Tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa
PEMBATAL-PEMBATAL PUASA:
1. Riddah (keluar dari agama Islam)
2. Makan dan minum dengan sengaja
3. Jima’
4. Keluarnya mani dengan sengaja
5. Keluarnya darah haid atau nifas
6. Obat atau suntikan yang dapat mengganti fungsi makanan, termasuk transfusi darah
7. Muntah dengan sengaja
8. Keluarnya darah dalam jumlah banyak secara sengaja: hijamah, donor darah, dll
BUKAN PEMBATAL PUASA:
1. Celak mata
2. Obat tetes mata atau hidung atau telinga
3. Parfum dan wangi-wangian
4. Suntikan pengobatan
5. Keluarnya madzi
6. Debu atau lalat terbang yang masuk ke tenggorokan dan tertelan
7. Obat hirup
8. Obat kumur
9. Obat pada luka
10. Menelan air liur atau dahak biasa
11. Keluar sedikit darah, seperti luka atau pemeriksaan golongan darah
12. Pembatal-pembatal puasa yang dilakukan tanpa sengaja
ORANG-ORANG YANG TIDAK BERPUASA:
A. Kewajibannya adalah qadha’ (mengganti dengan puasa setelah Ramadhan sejumlah hari-hari yang dia tinggalkan)
1. Orang sakit sementara yang ada kemungkinan sembuh
2. Pingsan
3. Musafir
4. Haidh
5. Nifas
6. Orang yang sengaja membatalkan puasa karena uzdur syar’i
7. Wanita menyusui yang tidak puasa karena khawatir terhadap kondisi dirinya atau kondisi dirinya bersama bayinya (ket: ketetapan tidak mampu dapat lewat pengalaman atau pengamatan langsung kondisi ibu atau keterangan dokter terpercaya)
8. Wanita hamil yang meninggalkan puasa karena khawatir terhadap kondisi dirinya atau kondisi dirinya bersama janinnya (ket: sda.)
B. Kewajibannya adalah ith’aam (mengganti dengan memberi makan satu orang miskin sejumlah hari-hari yang dia tinggalkan)
1. Orang lanjut usia
2. Orang sakit permanen yang kecil kemungkinan untuk sembuh
C. Kewajibannya adalah qadha’ dan ith’aam sekaligus
1. Wanita menyusui yang tidak puasa karena khawatir terhadap kondisi bayinya (ket: sda.)
2. Wanita hamil yang tidak puasa karena khawatir terhadap kondisi janinnya (ket: sda.)
D. Kewajibannya adalah tobat dan kaffarah (memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau ith’aam 60 orang miskin): jima’
E. Tidak berdosa: puasa anak kecil yang mumayyiz tapi belum baligh (dewasa)
BEBERAPA KASUS:
1. Yang afdhal bagi musafir yang tidak menemui kesulitan apapun dalam melaksanakan puasa adalah yang lebih mudah bagi dirinya, antara puasa dan meninggalkannya dengan qadha’
2. Sopir atau pelaut:
(a) Bagi bujangan atau orang yang membawa serta keluarganya, dia wajib puasa. Karena perjalanannya tidak terputus
(b) Bagi orang yang memiliki keluarga tapi tidak dibawanya serta, dia boleh puasa dan boleh juga tidak dengan qadha’ (Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz b. Baz)
3. Obat penunda haidh boleh digunakan, tapi tidak dianjurkan. Hal ini mengingat tidak sepinya obat-obatan kimiawi umumnya dari efek negatif bagi kesehatan
4. Orang yang bangun subuh dalam keadaan junub, tidak mengapa menunda mandi hingga masuk waktu shalat subuh. Dengan tetap melaksanakan shalat subuh berjamaah di mesjid.
5. Orang mimpi basah di siang hari tidak batal puasanya
6. Orang yang udzurnya hilang di tengah hari puasa, melanjutkan puasanya. Contoh: suci dari haidh, masuk Islam, mukim setelah safar, dll.
7. Qadha’ yang tertunda hingga melewati Ramadhan berikutnya:
(a) Bila dengan udzur, cukup diganti dengan qadha’ saja
(b) Tanpa udzur syar’I, disamping qadha’ juga ith’aam
8. Satu-satunya puasa yang ahli waris dianjurkan untuk mempuasakan orang yang telah meninggal adalah puasa nadzar
9. Satu kali niat untuk satu bulan cukup untuk puasa Ramadhan
SALAH PAHAM DALAM RAMADHAN: al. imsak atau berpuasa sebelum masuk waktu shalat subuh
Wallahu ta’ala a’laa wa a’lam
Maraji’:
Abdullah b. Abdul Rahman Al Bassam, Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram.
Shalih b. Fauzan Al Fauzan, Al Mulakkhashul Fiqhiy.
As Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah.
Hai’ah Kibaril ‘Ulama bil Mamakatil ‘Arabiyatis Su’udiyyah, Al Buhuts Al ‘Imiyyah.
Ilham Jaya Abdurrauf
http://www.wahdah.or.id/

Posted on 8/01/2012 04:23:00 PM by Unknown

No comments

blog majid kali ini akan menyampaikan materi Amalan -Amalan Yang Berhubungan Dengan Puasa.

1. Niat

Jika telah masuk bulan Ramadhan, wajib atas setiap muslim untuk berniat puasa pada malam harinya karena Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu. (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqy dari Hafshah binti Umar).


Dan niat tempatnya di dalam hati sedang melafalkannya itu termasuk kebid'ahan. Dan berniat puasa pada malam hari khusus untuk puasa wajib saja.

Menurut Imam Syafi'i, niat adalah pekerjaan hati bukan pekerjaan lisan. Berikut pengertian niat dalam kitab Fiqh Empat Mazhab (Al Fiqh Ala Madzahibil Arba'ah) :

"Maka yang dimaksud dengan niat adalah tekad yang kuat di dalam hati ketika mengerjakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, atau niat adalah kehendak yang kuat, yang sekiranya seseorang mencukupkan niat (berpuasa) dengan lisan saja tanpa meniatkan (memaksudkannya) dalam hati, maka sesungguhnya dia belum disebut sebagai orang yang berpuasa". [Kitab Al Fiqh Ala Madzahibil Arba'ah halaman. 183, oleh Syaikh Abdurrahman Al Jazairy]

2. Waktu Puasa

Adapun waktu puasa dimulai dari terbit fajar subuh sampai terbenam matahari dengan dalil firman Allah,

Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar.(Al-Baqarah, 2:186).

Dan perlu diketahui bahwa Rasulullah telah menjelaskan bahwa fajar ada dua:

a. Fajar kazib (fajar awal). dalam waktu ini belum boleh dilakukan solat subuh dan dibolehkan untuk makan dan minum bagi yang berpuasa.

b. Fazar shodiq (fajar yang kedua/subuh) sebagaimana hadits Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda,

Fajar itu ada dua. Adapun yang pertama, maka dibolehkan makan dan tidak boleh melakukan sholat, sedang yang kedua, maka diharamkam makan dan dibolehkan solat. (Riwayat Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruqutny, dan al-Baihaqy dengan sanad yang sahih)

Untuk mengenal keduanya dapat dilihat dari bentuknya. Fajar yang pertama, bentuknya putih memanjang vertikal seperti ekor serigala. Sedangkan fajar yang kedua, berwarna merah menyebar horisontal (melintang) di atas lembah-lembah dan gunung-gunung dan merata di jalanan dan rumah-rumah, dan jenis ini yang ada hubungannya dengan puasa.

Jika tanda-tanda tersebut telah tampak, maka hentikanlah makan dan minum serta bersetubuh. Sedangkan adat yang ada dan berkembang saat ini – yang dikenal dengan nama imsak – merupakan satu kebidahan yang seharusnya ditinggalkan. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibnu Hajar – seorang ulama besar dan ahli hadits yang bermazhab Syafi'i yang meninggal tahun 852 H – berkata dalam kitabnya yang terkenal Fath al-Bary Syarh al-Jami' ash-Shohih (4/199), Termasuk kebidahan yang mungkar adalah apa yang terjadi pada masa ini, yaitu mengadakan azan yang kedua kira-kira sepertiga jam sebelum fajar dalam bulan Ramadhan dan mematikan lentera-lentera sebagai alamat untuk menghentikan makan dan minum bagi yang ingin berpuasa, dengan persangkaan bahwa apa yang mereka perbuat itu demi kehati-hatian dalam beribadah. Hal seperti itu tidak diketahui, kecuali dari segelintir orang saja. Hal tersebut membawa mereka untuk tidak azan, kecuali setelah terbenam beberapa waktu (lamanya) untuk memastikan (masuknya) waktu-menurut persangkaan mereka- lalu mengakhirkan buka puasa dan mempercepat sahur. Maka mereka telah menyelisihi sunnah Rasulullah. Oleh karena itu, sedikit sekali kebaikan mereka dan lebih banyak kejelekan pada diri mereka.

Setelah jelas waktu fajar, maka kita menyempurnakan puasa sampai terbenam matahari lalu berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar bahwa Rasulullah bersabda,

Jika telah datang waktu malam dari arah sini dan pergi waktu siang dari arah sini serta telah terbenam matahari, maka orang yang berpuasa telah berbuka. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim)

Waktu berbuka tersebut dapat dilihat dengan datangnya awal kegelapan dari arah timur setelah hilangnya bulatan matahari secara langsung. Semua itu dapat dilihat dengan mata telanjang tidak memerlukan alat teropong untuk mengetahuinya.

3. Sahur

Hikmahnya

Setelah mewajibkan berpuasa dengan waktu dan hukum yang sama dengan yang berlaku bagi orang-orang sebelum mereka, maka Allah mensyariatkan sahur atas kaum muslimin dalam rangka membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Abu Sa'id al-Khudriy:

Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur. (Riwayat Muslim).

Keutamaan sahur antara lain:

1. Sahur adalah berkah sebagaimana sabda Rasulullah:

Sesungguhnya dia adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, maka jangan kalian meninggalkannya. (Riwayat an-Nasai dan Ahmad dengan sanad yang sahih)..Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas karena sahur itu mengikuti sunnah dan menguatkan orang yang berpuasa serta menambah semangat untuk menambah puasa dan juga mengandung nilai menyelisihi ahli kitab.

2. Salawat dari Allah dan malaikat bagi orang yang bersahur, sebagaimana yang ada dalam hadits Abu Sa'id al-Khudry bahwa Rasulullah bersabda,

Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur. (Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).

Sunnah Mengakhirkannya

Disunnahkan memperlambat sahur sampai mendekati subuh (fajar) sebagaimana yang dilakukan Rasulullah di dalam hadits Ibnu Abbas dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,

Kami bersahur bersama Rasulullah , kemudian beliau pergi untuk solat. Aku (Ibnu Abbas) bertanya, Berapa lama antara azan dan sahur? Beliau menjawab, Sekitar 50 ayat. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

Hukumnya

Sahur merupakan sunnah yang muakkad dengan dalil:

a. Perintah dari Rasulullah untuk itu sebagaimana hadits yang terdahulu dan juga sabda beliau :

Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

b. Larangan beliau dari meninggalkannya sebagaimana hadits Abu Sa'id yang terdahulu. Oleh karena itu, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary (3/139) menukilkan ijmak atas kesunahannya.

c. Sebaik-baik makanan sahur bagi seorang mukmin adalah kurma (Hadits Hasan, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Baihaqi)

4. Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Di dalam puasa ada perkara-perkara yang merusaknya, yang harus dijauhi oleh seorang yang berpuasa pada siang harinya. Perkara-perkara tersebut adalah:

a. Makan dan minum dengan sengaja sebagaimana yang difirmankan Allah :

Dan makanlah dan minumlah kalian sampai jelas baggi kalian benang putih siang dari benang hitam malam dari fajar. (Al-Baqarah, 2:186).

b. Sengaja untuk muntah ( muntah dengan sengaja).

c. Haid dan nifas.

d. Injeksi yang berisi makanan (infus).

e. Bersetubuh.

Kemudian ada perkara-perkara lain yang harus ditinggalkan oleh seorang yang berpuasa, yaitu:

1. Berkata bohong sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang tidak meninggalkan berkata bohong dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum. (Riwayat al-Bukhariy).

2. Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan) sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum. Puasa itu hanyalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah, 'Saya sedang puasa. Saya sedang puasa.' (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).


5. Perkara-Perkara yang Dibolehkan

Ada beberapa perkara yang dianggap tidak boleh padahal dibolehkan, di antaranya:

a. Orang yang junub sampai datang waktu fajar sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata:

Sesungguhnya Nabi mendapatkan fajar (subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya kemudian mandi dan berpuasa. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

b. Bersiwak.

c. Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika bersuci.

d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang berpuasa dan dimakruhkan bagi orang-orang yang berusia muda.

e. Injeksi yang bukan berupa makanan.

f. Berbekam.

g. Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan.

h. Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata.

i. Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi.


6. Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mudah. Oleh karena itu, ia memberikan kemudahan dalam puasa ini kepada orang-orang tertentu yang tidak mampu atau sangat sulit untuk berpuasa. Mereka itu adalah sebagai berikut:

1. Musafir (orang yang sedang dalam perjalanan/bepergian ke luar kota).

2. Orang yang sakit.

3. Wanita yang sedang haid atau nifas.

4. Orang yang sudah tua dan wanita yang sudah tua dan lemah.

5. Wanita yang hamil atau menyusui.


7. Berbuka Puasa

Waktu berbuka

Berbuka puasa dilakukan pada waktu terbenam matahari dan telah lalu penjelasannya pada pembahasan waktu puasa.

Mempercepat Buka Puasa

Termasuk dalam sunnah puasa adalah mempercepat waktu berbuka dalam rangka mengikuti contoh Rasulullah e dan para sahabatnya sebagaimana yang dikatakan oleh Amr bin Maimun al-Audy bahwa sahabat-sahabat Muhammad saw adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya. (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam al-Musannaf nomor 7591 dengan sanad yang disahihkan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary 4/199).

Adapun manfaatnya adalah:

1. Mendapatkan kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sahl bin Saà d bahwa Rasulullah bersabda,

Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

2. Merupakan sunnah Nabi .

3. Dalam rangka menyelisihi ahli kitab sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum muslimin) mempercepat buka puasanya karena orang-orang Yahudi dan Kristen (Nashrani) mengakhirkannya. (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan).

Buka puasa dilakukan sebelum solat maghrib karena itu merupakan akhlak para nabi. Sedangkan Rasulullah memotivasi kita untuk berbuka dengan kurma dan kalau tidak ada kurma, maka memakai air. Ini merupakan kesempurnaan kasih sayang dan perhatian beliau terhadap umatnya.


Makanan yang utama dalam berbuka,

Adalah Nabi beliau berbuka sebelum sholat dengan kurma basah dan apabila tidak menjumpainya, maka beliau berbuka dengan kurma kering, dan apabila tidak ada kurma kering, maka beliau meminum air (Hadits Hasan, HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Adapun do'a ketika berbuka puasa adalah;


ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)

Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Entah siapa orang yang membuat doa ini.

Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.



8. Adab Orang yang Berpuasa.

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk beradab dengan adab-adab yang syari, di antaranya:

1. Memperlambat sahur.

2. Mempercepat berbuka puasa.

3. Berdoa ketika berpuasa dan ketika berbuka .

4. Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa.

5. Bersiwak.

6. Berderma dan tadarus Alquran.

7. Bersungguh-sungguh dalam beribadah khususnya pada sepuluh hari terakhir.



Demikianlah catatan seputar puasa Ramadhan ini dibuat. Mudah-mudahan dapat berguna bagi saya khususnya dan bagi kaum muslimin umumnya.

Posted on 8/01/2012 04:22:00 PM by Unknown

No comments

Oleh : Syeikh Abdul Halim Mahmud


Perbincangan tentang Allah cukup banyak dari berbagai dimensinya. Namun dimensi Sufi memandang Allah lebih istemewa dan khusus, yaitu pada tinjauan Cinta kepada Allah. Dalam dunia Sufi soal cinta kepada Allah swt, juga tiada terhingga banyaknya.

Kajian tentang Allah sangat berbeda dengan kajian  para Ahli Kalam (teologi), apalagi jika dibandingkan kajian para Filosuf.

Kaum Sufi dalam cintanya kepada Allah mengikuti jejak cintanya Rasulullah saw,  sebagaimana orang Arab pernah mengomentari, “Sesungguhnya Muhammad telah asyik dengan Tuhannya.” Sayangnya orang-orang kafir Arab tidak beriman kepada Rasulullah saw. Atas cintanya kepada Allah swt.

Kaum Sufi kemudian menggelorakan cintanya kepada Allah swt, seperti yang diungkapkan oleh Rasbi’ah Adawiyah, Asy-Syibly, Imam Ibnu Masyisy, dan mayoritas kaum sufi lainnya, hingga disebutkan, “Tasawuf adalah cinta. Cinta pada Allah dan RasulNya, serta patuh pada Allah dan RasulNya.”

Diantara para pengkaji Allah ada yang meninjau dari segi WujudNya, sedangkan kaum Sufi sama sekali tidak meninjau WujudNya, baik dengan cara berdalil maupun bukti. Sehingga Ibnu Athaillah as-Sakandary mengungkapkan perspektif akademi Tasawuf dalam kitabnya, Lathaiful Minan, tentang Allah swt:
“Apabila makhluk ciptaan Allah swt, tidak memerlukan bukti untuk menjelaskan dan menegakkan dalilnya, maka – apalagi – Sang Pencipta sudah tidak perlu bukti untuk AdaNya.”

Pemikiran ini mengembalikan perspektif yang benar berhubungan dengan pandangan para teolog tentang , “Penetapan Wujud Allah.”

Pandangan Ibnu Athaillah merupakan sisi yang dikembangakan para Sufi, dan mayoritas pengikut Imam Abul Hasan asy-Syadzily,  yang mengatakan, “Bagaimana Allah diketahui melalui orang yang ‘arif (mengenal Allah) sedangkan  segala pengetahuan itu diketahui melalui Allah? Atau bagaimana Allah diketahui dan dikenal melalui sesuatu sedangkan Wujud Allah mendahului segala sesuatu?” (Lihat Lathaiful Minan)

Beliau juga menegaskan:
“Nah, seharusnya, kita memandang Allah swt dengan mata iman, sehingga kita tidak lagi perlu bukti dan dalil, karena kita  tidak pernah melihat siapa pun dari makhluk, apakah masih ada Wujud selain Allah swt Sang Diraja? Kalau toh ada, maka seperti ruang hampa di udara, jika anda teliti anda tidak temukan apa-apa”.

Ibnu Athaillah juga mengikuti jejak beliau, yang kemudian menegaskan:
“Diantara hal yang sangat mengherankan bila semesta alam mini dianggap bisa menghubungan dengan Allah – menurutku – apakah masih ada wujud lain selain Allah? Ataukah masih ada yang lebih jelas – untuk menjelaskan – sehingga alam ini menjadi penjelas bagi Allah?”

Bagaimana alam semesta bisa menjelaskan tentang Allah? Sedangkan Allahlah yang memunculkan alam semesta ini, atau bagaimana alam mini bisa mengenalkan Allah sedangkan alam mini dikenalkan oleh Allah?”

Inilah pandangan yang dikenalkan oleh Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili kepada para muridnya  dan tersebar di kalangan mereka yang kelak dikutip oleh Syeikh Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab-kitabnya. Diantaranya adalah:
“Bagi yang masih membutuhkan dalil dan bukti, itu hanya bagi kalangan publik umum yang selalu ingin memandang dengan nyata, karena mereka ini  menyucikan Allah swt melalui manifestasi tampilanNya yang dinilai butuh bukti. Namun bagaimana membutuhkan bukti pada Dzat yang menegakkan bukti itu sendiri? Bagaimana bisa dikenal melalui bukti, sedangkan Dialah yang mengenalkan bukti itu?”

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili dan para pengikutnya telah mengembalikan Islam yang benar sehubungan dengan Wujud Allah. Bahwa WujudNya itu lebih jelas dan lebih gamblang sehingga sama sekali tidak butuh bukti lagi. Bahwa Kemahasucian Allah swt itu, tidak bisa dikhayalkan WujudNya oleh orang yag beriman kepadaNya. Sedangkan Kemaha AgunganNya – yang merupakan pandangan keimanan orang beriman– sama sekali jauh dari perspektif sedemikian rupa dengan mengimajinasikan dan mengkhayalkan Wujud tersebut, sehingga malah menimbulkan penyimpangan.



Yang jelas segala upaya untuk memproyeksikan Wujud Allah, malah akan menimbulkan penyimpangan dari manhaj Islam yang benar. Apa yang diarahkan dalam metode pendekatan Syeikh Abul Hasan, adalah cara pandang Qur’any yang murni: Yaitu bahwa Al-Qur’anul Karim, dan semua Rasul – sholawat salam bagi mereka – telah memurnikan pandangan dari segala upaya untuk membuktikan wujudNya, dan mereka menyucikan dari pandangan bahwa Wujud allah itu butuh bukti dari sejumlah argument dan bukti lainnya. Tidak sama sekali!

Wacana adsy Syadzili ini telah diikuti dan menjadi panutan. Namun dewasa ini sempat dianggap aneh oleh kalangan yang pandangannya tersekat oleh ketololan, yang mengatakan bahwa upaya membuktikan wujud Allah itu adalab bid’ah yag menebar, hingga merasuk dalam wilayah beragama, sehingga banyak yang bertanya:
“Apakah pandangan Syeikh Abul Hasan ini benar?”

Dari segi penjelasan pemikiran abul Hasan asy Syadzily, memang perlu dijelaskan, karena topik tersebut telah membawa pertanyaan lebih jauh. Kami ingin menjelaskan pandangan Syeikh abul Hasan, yang bisaanya oleh khalayak seringkali dianggap kontroversial hanya karena keawaman mereka.  Sehingga pandangan mereka tidak sampai pada titik kebenaran yang jelas berakhir dengan pemahaman yang menyimpang pula.

Sejak mula, saat Rasulullah saw, berdakwah secara terang-terangan, – setelah melewati tiga tahun dalam merahasiakan missinya – Rasulullah saw, tidak pernah  memulai dakwahnya dengan menetapkan Wujud Allah. Namun Rasulullah saw, memulai bukti atas pembenaran pada Allah, dan menantang pada Bangsa Arab untuk membenarkannya. Sebelumnya, Rasulullah saw, berada dalam Gua , kemudian wahyu turun. Malaikat atau wahyu yang dibawanya juga sejak mula tidak menetapkan Wujud Allah. Tetapi dimulai dengan perintah kepada Rasul saw, untuk membaca degan Nama Tuhannya:

“Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan”. (Al-‘Alaq 1)

Pada kurun awal yang telah lewat itu pun, tak ada perbincangan mengenai penetapan Wujud Allah, bahkan melewati kurun kedua Islam, tak ada perbincangan mengenai Wujud Allah, tidak dijadikan topik kajian.

Karena Wujud Allah adalah masalah yang naluriyah, sama sekali tidak layak untuk dikaji oleh kaum beriman, baik dalam metode penafian maupun penetapan. Wujud Alah adalah sesuatu yang sudah Fitrah Naluriyah dalam diri orang beriman.
Manakala ada orang beriman mencoba membahas Wujud Allah berarti ada “sesuatu” dalam imannya yang mulai merusak. 

Al-Qura’an malah menjelaskan mengenai Allah sebagai sebagai Wujud yang sudah tidak perlu dijelaskan, bahkan terhadap kaum yang menyimpangkan akidahnya sekali pun. 

“Bila kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka mengatakan: Allah.” (Luqman : 25)

Mereka pun tetap mengatakan: Sang Pencipta itu Allah, walaupun mereka itu musyrik, dan menyimpang dari kebenaran. Agama tidak pernah diturnkan untuk menetapkan Wujud Allah, tetapi agama diturunkan untuk  membenarkan kesalahan akidah tentang Allah, cara bertauhid yang benar.

Sedangkan ayat yang begitu banyak tentang Allah, yang diduga oleh berbagai kalangan untuk menetapkan Wujud Allah, sungguh tidak demikian! Ayat-ayat tersebut semuanya menjelaskan Keagungan Allah, Kebesaran, dan PerlindunganNya terhadap semesta ini, dimana semua gerak gerik kehidupan alam hingga sekecil-kecilnya tidak lepas dari Kekuasaan dan Kehendak Allah.  Semua dalam rangka mengarahkan agar ummat Islam dalam hidup ini berorientasi kepada Allah swt.  sehingga menjadi Muslim yang paripurna, dimana ekspressi maupun arahnya tidak lepas dari Nama Allah swt, menempuh Jalan Allah swt.

Abad pertama dan kedua berlalu cukup signifikan dan murni dalam fitrah, tetapi setelah itu muncul transformasi dari filsafat Yunani di bidang teologi, yang sesungguhnya filsafat ini sangat paganis dan singkretis. Karena filsafat ini murni tumbuh dari akal. Bukan bersumber pada wahyu, dalam mengungkapkan soal metafisika dan akidah.

Pemikiran Yunanian (Helenisme) adalah paganis (bersifat berhala) sama sekali tidak punya pijakan kebenaran di dunia ini, karena akidah itu sangat spesifik dari Allah Ta’ala, yang dijelaskan melalui para RasulNya.

Setiap intervensi manusia terhadap soal akidah itu, pasti tumbuhnya adalah intervensi yag menyimpang, karena bukan wilayah manusiawi. Akidah adalah wilayah suci yang sangat terhormat, yang tidak layak untuk dimasuki manusia kecuali dengan kepatuhan, khusyu’, tunduk, pasrah, karena semua itu datang dari Wahyu Ilahi.

Sedangkan pandangan filsafat Yunani soal akidah sifatnya paganisme sinkretisme, apalagi ketika menetapkan Wujudnya Allah.  Apa yang diungkapkan tentang Wujud Allah tak lebih dari berhala, yang kelak bisa menimbulkan pemberhalaan pada akal manusia. 

Sehingga ketika membuktikan wujud Allah secara rasional, nilai dan gunanya tidak ada sama sekali, sebab nilai pengingkaran dan penetapan atas wujud Allah sama, dimana akal bisa menetapkan dan sekaligus juga bisa mengingkari. Jadi pemikiran intelektual Barat maupun Timur, sama sekali tidak bisa menetapkan dan memproyeksikan Wujud allah.

Kita tidak ingin akidah kita didasarkan produk pemikiran manusia, walau pun pemikiran tersebut rasional dan akademik. Siapa pun tidak bisa membuat timbangan pandangan metafisika dengan dasar rasio manusia. Baik rasionalisme tadi berselaras dengan akidah maupun tidak. Karena kita mengikuti agama Allah dan hanya kepada Allah saja sumber segalanya, hanya Allahlah sebagai Sang Pemberi Hidayah, Allahlah yag Memberi Petunjuk.

“Siapa yang berpegang teguh padaAllah maka benar-benar diberi hidayah Jalan Lurus.” (Ali Imran : 101)

Siapa yang berpegang teguh pada Allah maka Allah mencukupinya. Segala petunjuk yang bukan petunjuk Allah dalam alam keagamaan, pastilah paganis dan sesat.  Sedangkan filsafat Yunani adalah filsafat paganisme manusia, dan produknya pasti pemberhalaan demi pemberhalaan akal manusia (dengan mengacu logika), yang tidak meraih kebenaran mutlak. Dan Hellenisme inilah yang memunculkan berhala-berhala pemikiran setiap zaman.

Bangsa Yunani, dalam sebagian kurunnya tidak terdapat agama wahyu yang turun dari Langit yang dijadikan petunjuk, sehingga era tersebut persis seperti era Jahiliyah di jazirah Arab, yang mengembalikan semuanya pada akal dan berhala-berhalanya, yang kadang mereka kokohkan dan kadang mereka ingkari.

Lalu datanglah agama Nasrani yang mengoreksi atas kesalahan ummat Yunani itu, sehingga paganisme mulai luntur, sehingga Wujud allah ditepiskan dari tema pembahasan. Namun akhirnya terjadi percampuradukan yang kotor di era berikutnya, sampai pada era dimana Allah hanyalah dogma gereja belaka, sehingga pemikiran keagamaan yang suci malah jauh dari Allah, sampai berkembang menjadi pemikiran paganisme rasional. Islam dating membersihkan akidah yang demikian, mencyucikan iman manusia, dimana manusia tidak bisa intervensi terhadap ajaran Allah swt dalam soal akidah dan Risalahnya. 

Islam tidak lain adalah kepatuhan dan kepasrahan total kepada Allah swt: Bersinambung dengan Allah swt sesuai dengan apa yang dirihoiNya. Apakah masih ada peluang lain untuk mencari kerelaan selain Allah? Apakah jika masih bergelayut dengan selain Allah dalam akidah ini bisa disebut mu’min?

Bersinambung dengan Allah swt melalui apa yang diwajibkan oleh Asllah swt adalah Islam. Yaitu agama, dan tak ada agama lain lagi. 

“Sesungguhnya agama menurut Allah adalah Islam” (Ali Imran 19)

“Dan siapa yang mencari agama lain selain Islam tidak akan diterima…” (Ali Imran 85).

Sedikit maupun banyak, orang yang yang tidak pasrah total kepada Allah swt, akan mudah ternodai melalui penyimpangannya terhadap Islam.

Islam memiliki pandangan dan prinsip dasar; Diantaranya adalah Wujud Allah itu tidak dijadikan topik pembahasan. Siapa yang menjadikan tema Wujud Allah sebagai tema kajian berarti ia akan berubah orientasinya dari menuju Allah swt, menuju orientasi manusiawi yang nantinya jauh dari agama.

Periode Islam sangat murni sedemikian rupa, yang kahirnya sempat ternoda oleh pandangan filsafat Yunani yang mempengaruhi atmosfir Islam di era Al-Ma’mun, yang kelak lebih menerima pandangan Mu’tazilah. Sehingga pengarhnya luar bisaa terhadap ummat, sehingga logika agama dan fitrah yang benar tidak menjadi pelindung ummat ketika itu, lebih banyak mengalir logika Aristoteles. Lambat laun paganisme rasional berpengaruh kuat mengalahkan agama.

Rasionalisme paganis – semoga Allah Ta’ala melindungi – tidak bisa mengotori akidah Islam yang agung – Iman kepada Allah dan RasulNya, dan hari akhir - . Rasionalisme hanya bisa ditoleransi dalam bidang metode, paradigma dan system kajian. Bukan merasuk pada pandangan teologis. Karena sangat, membahayakan akidah dan melemahkan iman.

Di sinilah anda harus membedakan metode rasional untuk merubah wahyu mengikuti selera rasional, dengan metode rasional untuk menjelaskan dan menyimpulkan ajaran Wahyu untuk kepentingan tertentu.  Ini berarti juga, anda harus membedakan antara memaksa wahyu agar berselaras dengan akal rasio kita, dengan menerjemahkan wahyu agar difahami oleh rasio kita.  Banyak orang yang tidak bisa membedakan hal ini.

Sehingga banyak pihak yang mentakwilkan wahyu yang dipaksakan agar mengikuti logika rasionalnya, bukannya wahyu yang menjadi penuntun akalnya. Pihak yang mekasa wakyu mengikuti akal rasionya adalah paradigma kaum filsafat Helenis, dan yang menjadikan wahyu sebagai penuntun akal adalah kaum mu’min sejati.

Pandangan paganis rasional memaksa dirinya untuk menetapkan metode memproyeksi  Wujud Allah, yang akhirnya mengingkari pandangan keagamaan, malah berakhir dengan mengingkari Wujud Allah Yang Paripurna itu sendiri. 

Ketika tema mengenai Wujud Allah menjadi sentra bahasan, pada saat yang sama seseorang kanan masuk dalam proses pengingkaran agama Allah dan mengkafiri Allah swt.

Kesimpulan kedua, adalah pelemahan iman, karena ketika anda masuk dalam bahasan Wujud Ilahi, berarti anda tengah masuk dalam lingkaran skeptisisme (keraguan), karena memang anda sedang membahas Wujud itu sendiri disebabkan keraguan atas wujud.

Lambat laun keimanan kita kepada Allah swt terkikis, sampai tanpa iman.  Inilah yang menggerogoti ummat Islam, yang boleh disebut sampai pada frekwensi tanpa iman. Semua itu muncul ketika skeptisisme metodologis memasuki dasar-dasar agama.  Apakah ada kesimpulan semakin membuat anda yaqin kepada Allah swt. Setelah mengkaji Wujud Allah swt.?

Kita memhon ampunan kepada Allah dan bertobat kepadaNya. Dan kita kembali bahwa agama itu sendiri senantiasa dijaga oleh Allah swt.:

“Sesungguhnya Kami turunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami sangat menjaganya.” (Al-Hijr 9)

Sebagian akum ‘Arifin ketika ditanya tentang dalil tentang Allah, maka ia menjawab: 
“Allah”.
“Lalu akal gunanya untuk apa?” ditanya lagi.
“Akal itu lemah, dan tidak bisa menunjukkan sesuatu kecuali lemah pula.” Jawabnya.

Imam agung, yang sangat terkenal sebagai pemadu dunia syariat dan hakikat, Ibnu Athaillah as-Sakanday menegaskan:

“Oh Tuhanku, bagaimana orang membuktikan diriMu melalui sesuatu yang wujudnya sangat butuh kepadaMu? Apakah ada yang lebih jelas dibanding diriMu? Sehingga sesuatu itu bisa menjelaskan tentangMu? Kapankah Engkau hilang, sehingga harus ada sesuatu yang menjadi petunjuk kepadaMu? Kapankah Engkau pernah menjauh. Sehingga makhluk ini menjadi jembatan yang menghubungkan padaMu?”

Beliau juga menegaskan:

“Bagaimana bisa digambarkan bahwa sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itulah yang memunculkan segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan bahwa seuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak menyertai segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak di dalam segala sesuatu.”
“Bagaimana  bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan  Allah Tampak bagi segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak sebelum segala sesuatu ini ada.”
“Bagaimana bisa digambarkan seuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak dari berbagai sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah adalah Satu-satunya, yang tidak satu pun menyertai-Nya.”
“Bagaimana bisa digambarkan, sesuatu itu menghijab Allah,  sedangan Allah lebih dekat padamu dibanding segalanya.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan tanpa adanya Allah, segala sesuatu tidak pernah ada.”
“Betapa mengherankan, bagaimana Yang Maha Ada, tampak dalam ketiadaan.  Atau bagaimana seuatu yang baru berada beserta Dzat yang memiliki sifat Qidam?”

Juga beliau menegaskan:

“Jauh sekali: Antara orang yang mencari bukti adanya Allah melalui selain Allah, orang yang mencari bukti adanya Allah melalui Allah. Orang yang mencari bukti melalui selain Allah tandanya ia belum sampai pada Allah, dan yang membuktikan Allah melalui Allah adalah cara membuktikan dari Wujud asalnya.”

Betapa indah dan elok orientasi yang dikumandangkan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily yang diikuti oleh para muridnya, semoga Allah memberikan balasan kepadanya dan seluruh pandangannya yang benar ini, dengan balasan sebaik-baiknya. Amin.

Posted on 8/01/2012 04:16:00 PM by Unknown

No comments

Ilmu Tentang Alloh Adalah Pokok dari Segala Ilmu

Ilmu tentang Alloh adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Alloh, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang jahil tentang Robb-nya, niscaya dia akan lebih jahil terhadap yang selainnya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Al-Hasyr: 19). Ketika seseorang lupa terhadap dirinya, dia pun tidak mengenal hakikat dirinya dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan ia lupa dan lalai terhadap apa saja yang merupakan sebab bagi kebaikan dan kemenangannya di dunia dan di akhirat. Maka, jadilah dia seperti orang yang ditinggalkan dan ditelantarkan, yang berstatus seperti binatang ternak yang dilepas dan dibiarkan pergi sekehendaknya, bahkan mungkin saja binatang ternak lebih mengetahui kepentingan dirinya daripadanya.

Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah seorang yang beribadah kepada Alloh dengan semua nama dan sifat-sifat Alloh yang diketahui oleh manusia”. Beliau juga berkata, “Yang jelas, bahwa ilmu tentang Alloh adalah pangkal segala ilmu dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba akan kebahagiaan, kesempurnaan dan kemaslahatannya di dunia dan di akhirat.” (Miftaah Daaris Sa’aadah).

Hampir Setiap Ayat Dalam Al-Qur’an Menyebutkan Nama dan Sifat Alloh

Alloh telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Alqur’an yang kita baca selalu berakhir dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Alloh atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, firman Alloh yang artinya, “…Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 5) dan juga firman-Nya yang artinya, “…Dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 17)

Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seorang yang mengetahui-Nya, hingga ia selalu merasa terawasi oleh Alloh dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, sempurnalah rasa malunya dari bermaksiat kepada Alloh.

Yang Paling Takut Kepada Alloh Adalah yang Paling Mengenal Alloh

Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba kepada Robb-nya, maka ia akan semakin takut kepada-Nya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (Faathir: 28)

Orang yang paling mengenal dan paling mengetahui Alloh adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau senantiasa dalam keadaan takut dari perbuatan durhaka terhadap Robb-nya, dan tentu kita telah mengetahui siapa beliau. Karena Alloh telah memerintahkannya untuk mengatakan, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Robbku’.” (Al-An’aam: 15)

Sebab, ahli tauhid yang benar-benar mengenal Alloh memandang bahwa kemaksiatan itu, meskipun kecil, ibarat sebuah gunung yang sangat besar. Karena mereka mengetahui keagungan Dzat (Rabb) yang Maha Esa serta Maha Kuasa dan mengenal hak-hak-Nya, oleh sebab itu, mereka menjadi orang-orang yang paling takut kepada-Nya di antara manusia.

Kebodohan Akan Keagungan Alloh Adalah Induk Kemaksiatan

Dari Abul ‘Aliyah, beliau pernah bercerita bahwa para Shahabat Rosululloh mengatakan, “Setiap dosa yang dikerjakan seorang hamba, penyebabnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir, dengan sanad yang shahih)

Imam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Setiap pelaku kemaksiatan adalah seorang jahil dan setiap orang yang takut kepada-Nya adalah seorang alim yang taat kepada Alloh. Dia menjadi seorang yang jahil hanya karena kurangnya rasa takut yang dimilikinya, kalau saja rasa takutnya kepada Alloh sempurna, pastilah dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya.”

Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalannya terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh ‘alaihis salaam mengajak kaumnya (kepada tauhid) lalu mereka menolaknya, maka beliau pun mengetahui bahwa penolakan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Alloh. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Alloh?” (Nuuh: 13). Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui beberapa jalan yang saling menguatkan)

Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan, karena seandainya manusia mengenal Alloh dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Alloh dengan sesuatu. Sebab, segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya?

Nama Alloh Semuanya Husna

Nama-nama Alloh semuanya husnaa, maksudnya, mencapai puncak kesempurnaannya. Karena nama-nama itu menunjukkkan kepada pemilik nama yang mulia, yaitu Alloh Subhaanahu wa Ta’ala dan juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada cacat sedikit pun ditinjau dari seluruh sisinya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Hanya milik Alloh-lah nama-nama yang husna.” (Al-A’roof: 18)

Kewajiban kita terhadap nama-nama Alloh ada tiga, yaitu beriman dengan nama tersebut, beriman kepada makna (sifat) yang ditunjukkan oleh nama tersebut dan beriman dengan segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut. Maka, kita beriman bahwa Alloh adalah Ar-Rohiim (Yang Maha Penyayang), memiliki sifat rahmah (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu dan menyayangi semua hamba-Nya.

Nama dan Sifat Alloh Tidak Dibatasi Dengan Bilangan Tertentu

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, shahih). Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Alloh dan menjadi perkara yang ghaib.

Adapun sabda beliau, “Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk syurga.” (HR. Bukhari-Muslim) tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Alloh dengan bilangan sembilan puluh sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Alloh yang 99 itu, mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menhafal dan memahaminya akan masuk syurga.

Demikianlah, semoga kita benar-benar mengenal Alloh dengan sebenar-benar pengenalan dan mengagungkan Alloh dengan sebenar-benar pengagungan sehingga bisa menyelamatkan kita dari berbuat syirik kepada-Nya.

***

Penulis: Abu Ibrohim M. Saifudin Hakim
Artikel www.muslim.or.id

Posted on 8/01/2012 04:12:00 PM by Unknown

No comments

WALI SONGO


Click untuk Full Size Image

 “Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Saat itu, majelis dakwah Walisongo beranggotakan Maulana Malik Ibrahim sendiri, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil Kubro (Sunan Kubrawi); Maulana Muhammad Al-Maghrabi (Sunan Maghribi); Maulana Malik Isra'il (dari Champa), Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana 'Aliyuddin, dan Syekh Subakir. Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu
  • Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim - Gapura Wetan, Gresik
  • Sunan Ampel atau Raden Rahmat - Ampeldenta, Surabaya
  • Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim - Tuban
  • Sunan Drajat atau Raden Qasim - Paciran
  • Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq -Kudus
  • Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin - Giri, Gresik
  • Sunan Kalijaga atau Raden Said - Kadilangu, Demak
  • Sunan Muria atau Raden Umar Said - Kolo, Gunung Muria
  • Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah - Gunung Sembung, Cirebon
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah anak saudara kepada Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
 

Posted on 6/19/2012 01:47:00 PM by Unknown

No comments

Kadilangu terletak tak jauh dari Demak di Jawa Tengah. Kalau Anda datang dari arah Semarang, sebelum sampai di Demak bisa mampir ke Kadilangu dahulu. Udara biasanya panas, tetapi orang-orang yang mengalir tanpa putus wajahnya begitu tulus – dan ketulusan itulah yang memberi perasaan damai. Memang, di sanalah terletak makam yang dalam tesis Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI (2003) disebutkan sebagai “paling dikeramatkan di Jawa Tengah”, yakni makam Sunan Kalijaga. Nama ini terdengar begitu akrab, tetapi lebih akrab lagi adalah karya-karyanya sebagai pendakwah kreatif, yang sering dimanfaatkan tanpa disadari lagi sebagai gubahan Sunan Kalijaga. Seperti terjadi dengan kidung Rumeksa Ing Wengi, yang disamping berfungsi sebagai kidung tolak bala, jika dibawakan Nyi Bei Madusari juga terdengar indah sekali. Perhatikan:

Posted on 3/26/2012 03:32:00 PM by Unknown

No comments