BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latarbelakang Masalah
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisan-tulisan.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian autis ?
2.      Apa saja penyebab autis ?
3.      Apa saja karakteristik autis ?
4.      Bagaimana perlakuan terhadap anak autis usia dini ?
5.      Bagaimana pendekatan pembelajaran anak autis ?
6.      Bagaimana model pelayanan pendidikan bagi anak autis ?
7.      Bagaimana pelaksanaan kegiatan belajar mengajar anak autis ?
8.      Bagaimana proses belajar mengajar dan solusinya ?


  1. Tujuan
1.      Mengetahui pengertian autis
2.      Mengetahui penyebab autis
3.      Mengetahui karakteristik autis
4.      Mengetahui perlakuan terhadap anak autis usia dini
5.      Mengetahui pendekatan pembelajaran anak autis
6.      Mengetahui model pelayanan pendidikan bagi anak autis
7.      Mengetahui pelaksanaan kegiatan belajar mengajar anak autis
8.      Mengetahui proses belajar mengajar dan solusinya 


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN AUTIS
Istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri "Isme" yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah ada sejak lahir.
Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (savant)

B. PENYEBAB AUTIS
Sampai sekarang belum terdeteksi faktor yang menjadi penyebab tunggal timbulnya gangguan autisme. Namun demikian ada beberapa faktor yang di mungkinkan dapat menjadi penyebab timbulnya autisme. berikut:
  1. Menurut Teori Psikososial
Beberapa ahli (Kanner dan Bruno Bettelhem) autisme dianggap sebagai akibat hubungan yang dingin, tidak akrab antara orang tua (ibu) dan anak. Demikian juga dikatakan, orang tua/pengasuh yang emosional, kaku, obsesif, tidak hangat bahkan dingin dapat menyebabkan anak asuhnya menjadi autistik.
  1. Teori Biologis
·         Faktor genetic: Keluarga yang terdapat anak autistik memiliki resiko lebih tinggi dibanding populasi keluarga normal.
·         Pranatal, Natal dan Post Natal yaitu: Pendarahan pada kehamilan awal, obat-obatan, tangis bayi terlambat, gangguan pernapasan, anemia.
·         Neuro anatomi yaitu: Gangguan/disfungsi pada sel-sel otak selama dalam kandugan yang mungkin disebabkan terjadinya gangguan oksigenasi, perdarahan, atau infeksi.
·         Struktur dan Biokimiawi yaitu: Kelainan pada cerebellum dengan cel-sel Purkinje yang jumlahnya terlalu sedikit, padahal sel-sel purkinje mempunyai kandungan serotinin yang tinggi.
·         Demikian juga kemungkinan tingginya kandungan dapomin atau opioid dalam darah.
  1. Keracunan logam berat misalnya terjadi pada anak yang tinggal dekat tambang batu bara, dsb.
  2. Gangguan pencernaan, pendengaran dan penglihatan. Menurut data yang ada 60 % anak autistik mempunyai sistem pencernaan kurang sempurna. Dan kemungkinan timbulnya gejala autistik karena adanya gangguan dalam pendengaran dan penglihatan.

C. KARAKTERISTIK AUTIS
Anak autis mempunyai masalah/gangguan dalam bidang:
1. Komunikasi:
·         Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
·         Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna,
·         Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
·         Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain
·         Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
·         Senang meniru atau membeo (echolalia)
·         Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya
·         Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa
·         Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu

2. Interaksi sosial:
·         Penyandang autistik lebih suka menyendiri
·         Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan
·         Tidak tertarik untuk bermain bersama teman
·         Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh

3. Gangguan sensoris:
·         sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk
·         bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
·         senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda
·         tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut
4. Pola bermain:
·         Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya,
·         Tidak suka bermain dengan anak sebayanya,
·         tidak kreatif, tidak imajinatif
·         tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar
·         senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda,
·         dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana

5. Perilaku:
·         Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif)
·         Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang
·         Tidak suka pada perubahan
·         Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong

6. Emosi:
·         sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan
·         temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya
·         kadang suka menyerang dan merusak
·         Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
·         tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain

D. PERLAKUAN TERHADAP ANAK AUTIS USIA DINI
Sebelum/sembari mengikuti pendidikan formal (sekolah). Anak autistik dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak antara lain:
  1. Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik.
  2. Terapi Okupasi : untuk melatih motorik halus anak.
  3. Terapi Bermain : untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
  4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.
  5. Terapi melalui makan (diet therapy) : untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autisme.
  6. Auditory Integration Therapy : untuk melatih kepekaan pendengaran anak lebih sempurna
  7. Biomedical treatment/therapy : untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)
  8. Hydro Therapy : membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.
  9. Terapi Musik : untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi.

E. PENDEKATAN PEMBELAJARAN ANAK AUTIS
1.      Discrete Tial Training (DTT) : Training ini didasarkan pada Teori Lovaas yang mempergunakan pembelajaran perilaku. Dalam pembelajarannya digunakan stimulus respon atau yang dikenal dengan orperand conditioning. Dalam prakteknya guru memberikan stimulus pada anak agar anak memberi respon. Apabila perilaku anak itu baik, guru memberikan reinforcement (penguatan). Sebaliknya perilaku anak yang buruk dihilangkan melalui time out/ hukuman/kata “tidak”
2.      Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Programfor Preschoolers and Parents) menggunakan stimulus respon (sama dengan DTT) tetapi anak langsung berada dalam lingkungan sosial (dengan teman-teman). Anak auitistik belajar berperilaku melalui pengamatan perilaku orang lain.
3.      Floor Time merupakan teknik pembelajaran melalui kegiatan intervensi interaktif. Interaksi anak dalam hubungan dan pola keluarga merupakan kondisi penting dalam menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan kemampuan anak dari segi kumunikasi, sosial, dan perilaku anak.
4.      TEACCH (Treatment and Education for Autistic Childrent and Related Communication Handicaps) merupakan pembelajaran bagi anak dengan memperhatikan seluruh aspek layanan untuk pengembangan komunikasi anak. Pelayanan diprogramkan dari segi diagnosa, terapi/treatment, konsultasi, kerjasama, dan layanan lain yang dibutuhkan baik oleh anak maupun orangtua.

F. MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK AUTIS
Pendidikan untuk anak autis usia sekolah bisa dilakukan di berbagai penempatan. Berbagai model antara lain:
1. Kelas transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak autistik yang telah diterapi memerlukan layanan khusus termasuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu atau struktur. Kelas transisi sedapat mungkin berada di sekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan dimodifikasi sesuai kebutuhan anak.
2. Program Pendidikan Inklusi
Program ini dilaksanakan oleh sekolah reguler yang sudah siap memberikan layanan bagi anak autistik. Untuk dapat membuka program ini sekolah harus memenuhi persyaratan antara lain:
  1. Guru terkait telah siap menerima anak autistik
  2. Tersedia ruang khusus (resourse room) untuk penanganan individual
  3. Tersedia guru pembimbing khusus dan guru pendamping.
  4. Dalam satu kelas sebaiknya tidak lebih dari 2 (dua) anak autistik.
  5. Dan lain-lain yang dianggap perlu.
3. Program Pendidikan Terpadu
Program Pendidikan Terpadu dilaksanakan disekolah reguler. Dalam kasus/waktu tertentu, anak-anak autistik dilayani di kelas khusus untuk remedial atau layanan lain yang diperlukan. Keberadaan anak autistik di kelas khusus bisa sebagian waktu atau sepanjang hari tergantung kemampuan anak.
4. Sekolah Khusus Autis
Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak autistik terutama yang tidak memungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler. Anak di sekolah ini sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi sekeliling mereka. Pendidikan di sekolah difokuskan pada program fungsional seperti bina diri, bakat, dan minat yang sesuai dengan potensi mereka.
5. Program Sekolah di Rumah
Program ini diperuntukkan bagi anak autistik yang tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya. Anak-anak autistik yang non verbal, retardasi mental atau mengalami gangguan serius motorik dan auditorinya dapat mengikuti program sekolah di rumah. Program dilaksanakan di rumah dengan mendatangkan guru pembimbing atau terapis atas kerjasama sekolah, orangtua dan masyarakat.
6. Panti (griya) Rehabilitasi Autis
Anak autistik yang kemampuannya sangat rendah, gangguannya sangat parah dapat mengikuti program di panti (griya) rehabilitasi autistik. Program dipanti rehabilitasi lebih terfokus pada pengembangan:
(1) Pengenalan diri
(2) Sensori motor dan persepsi
(3) Motorik kasar dan halus
(4) Kemampuan berbahasa dan komunikasi
(5) Bina diri, kemampuan sosial
(6) Ketrampilan kerja terbatas sesuai minat, bakat dan potensinya.
Dari beberapa model layanan pendidikan di atas yang sudah eksis di lapangan adalah Kelas transisi, sekolah khusus autistik dan panti rehabilitasi.

G. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
  1. Prinsip-prinsip pengajaran dan pendidikan
Pendidikan dan pengajaran anak autistik pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Terstruktur
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsip terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya.
Sebagai contoh, untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi "Ambil bola merah". Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata "ambil", "bola". Dan "merah". Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi "Ambil bola merah" kedalam perbuatan kongkrit. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik meliputi :
- Struktur waktu
- Struktur ruang, dan
- Struktur kegiatan

b. Terpola
Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.
Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang, dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebih mudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behavior therapi).
c. Terprogram
Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitan erat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak, sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target program yang kedua, demikian pula selanjutnya.
d. Konsisten
Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik, prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement) Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya.
Konsisten memiliki arti "Tetap", bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi guru pembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu anak autistik. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalam pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan dirumah.

e. Kontinyu
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan dan pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autistik. Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, therapi perilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).
  1. Kurikulum
Dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik tentunya harus berdasarkan pada kurikulum pendidikan yang berorientasi pada kemampuan dan ketidak mampuan anak dengan memperhatikan deferensiasi masing-masing individu.
  1. Pendekatan dan Metode
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik menggunakan Pendekatan dan program individual. Sedangkan metode yang digunakan adalah merupakan perpaduan dari metode yang ada, dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Metode dalam pengajaran anak autistik adalah metode yang memberikan gambaran kongkrit tentang "sesuatu", sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang "sesuatu" tersebut.
  1. Sarana Belajar Mengajar
Sarana belajar diperlukan, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara kongkrit bagi anak autistik. Pola pikir anak autistik pada umumnya adalah pola pikir kongkrit. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus kongkrit. Beberapa anak autistik dapat berabstraksi, namun pada awalnya mereka dilatih dengan sarana belajar yang kongkrit
  1. Evaluasi
Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Dalam pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik evaluasi dapat dilakukan dengan cara:
1. Evaluasi Proses
Evaluasi Proses ini dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Hal ini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara visual dan kongkrit.
Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana progres yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.
2. Evaluasi Bulan
Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna mendapatkan pemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain dengan mencari penyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh kasus. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference.

3. Evaluasi Catur Wulan
Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolok ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak, maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak, sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program.

H. HAMBATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN SOLUSINYA
1. Masalah Perilaku
Masalah perilaku yang sering muncul yaitu : stimulasi diri dan stereotip.
Bila perilaku tersebut muncul yang dapat kita lakukan :
·         Memberikan Reinforcement.
·         Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri
·         Siapkan kegiatan yang menarik dan positif
·         Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak, tidak menyakiti diri.
2. Masalah Emosi :
Masalah ini menyangkut kondisi emosi yang tidak stabil, misalnya; menangis, berteriak, tertawa tanpa sebab yang jelas, memberontak, mengamuk, destruktif, tantrum.Cara mengatasinya :
  1. Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya
  2. Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang.
  3. Setelah kondisi emosinya mulai membaik, kegiatan dapat dilanjutkan.
3. Masalah Perhatian (Konsentrasi)
Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Untuk itu maka usaha yang harus diupayakan oleh pembimbing adalah:
    1. Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap.
    2. Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi.
    3. Istirahat sebentar kemudian kegiatan dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak, misal: menyanyi, bermain,
4. Masalah Kesehatan
Bila kondisi kesehatan siswa kurang baik, maka kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan secara efektif, namun demikian kegiatan belajar tetap dapat dilaksanakan, hanya saja dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi anak.

5. Orang Tua
Untuk memberikan wawasan pada orang tua, perlu dibentuk Perkumpulan Orang Tua Siswa, sebagai sarana penyebaran berbagi pengalaman sesama seperti informasi baru dari informasi internet, buku-buku bahkan jika mungkin tatap muka dengan tokoh yang berkaitan dalam pendidikan untuk anak autistik atau anak dengan kebutuhan khusus.

6. Masalah Sarana Belajar
Dengan menyediakan materi-materi yang mungkin diperlukan untuk kepentingan terapi anak-anaknya misalnya :
- Textbook berbahasa Inggris dan Indonesia,
- Buku-buku pelajaran siswa,
- Kartu-kartu PECS, Compics, Flashcard, dlsb,
- Pegs, balok kayu, puzzle dan mainan edukatif lainnya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
  1. Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun
  2. PENYEBAB AUTIS
    1. Menurut Teori Psikososial
    2. Teori Biologis
    3. Keracunan logam berat misalnya terjadi pada anak yang tinggal dekat tambang batu bara
    4. Gangguan pencernaan, pendengaran dan penglihatan
  3. KARAKTERISTIK AUTIS
    1. Komunikasi
    2. Interaksi sosial
    3. Gangguan sensoris
    4. Pola bermain
    5. Perilaku
    6. Emosi
  1. PERLAKUAN TERHADAP ANAK AUTIS USIA DINI
    1. Terapi Wicara
    2. Terapi Okupasi
    3. Terapi Bermain
    4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy)
    5. Terapi melalui makan (diet therapy)
    6. Auditory Integration Therapy
    7. Biomedical treatment/therapy
    8. Hydro Therapy
    9. Terapi Musik  
  1.    PENDEKATAN PEMBELAJARAN ANAK AUTIS
    1. Discrete Tial Training (DTT)
    2. Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Programfor Preschoolers and Parents)
    3. Floor Time
    4. TEACCH (Treatment and Education for Autistic Childrent and Related Communication Handicaps)
  1. MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK AUTIS
    1. Kelas transisi
    2. Program Pendidikan Inklusi
    3. Program Pendidikan Terpadu
    4. Sekolah Khusus Autis
    5. Program Sekolah di Rumah
    6. Panti (griya) Rehabilitasi Autis
  1. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
    1. Prinsip-prinsip pengajaran dan pendidikan
    2. Kurikulum
    3. Pendekatan dan Metode
    4. Sarana Belajar Mengajar
    5. Evaluasi
  1. HAMBATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN SOLUSINYA
    1. Masalah Perilaku
    2. Masalah Emosi
    3. Masalah Perhatian (Konsentrasi)
    4. Masalah Kesehatan
    5. Orang Tua
    6. Masalah Sarana Belajar
DAFTAR PUSTAKA

Source (Sumber) : Dikdasmen Depdiknas