Test Footer

rangkuman buku evaluasi program pembelajaran


RESUME BUKU
EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Sistem Evaluasi PAI II
Yang diampu oleh Bapak H. Muhammad Fakhrurronji, M.Pd.





Oleh :
Nama                 : Samsul Majid
NIM                    : 10910261
Semester             : V (lima)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALI SEMBILAN
SEMARANG
                                                                             2012



BAB I
KONSEP EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN

A.    Pengertian Evaluasi Program

1.      Konsep Dasar Evaluasi
Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran dan penilaian. Tes merupakan salah satu  cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pernyataan ( Djemari Mardapi, 2008:67).
Pengukuran dapat didefinisikan sebagai process by which information about the attributes or characteristics of thing are determinied and differentiated (Oriondo, 1998:2). Sedangkan evaluasi merupakan suatu proses informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu pertanggungjwaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena.
Wujud dari hasil evaluasi adalah adanya rekomendasi dari evaluator untuk pengambilan keputusan. Menurut suharsimi arikunto dan cepi safruddin (2008:22) ada empat kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program, yaitu :
1.    Menghentikan program
2.    Merevisi program
3.    Melanjutkan program
4.    Menyebarkan program
Evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang bersifat mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas. Jadi sasarannya adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru untuk sekolah dan dosen untuk perguruan tinggi (Djemari Mardapi, 2000:2).
    
2.        Program Pembelajaran
Menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin (2008:3-4) ada dua pengertian untuk istilah “program”.yaitu pengertian secara khusus dan umum. Sssecara umum program diartikan sebagai rencana, sedangkan menurut makna khusus adalah suatu unit atau kesatuan  kegiatan yang merupakan relisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam program yang berkesinambungan dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Di dalam buku yang lain  Suharsimi ( 2008: 291) mendefinisikan program sebagai sesuatu kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Sedang Farida Yunus Tayibnapis (2000:9) mengartikan program sebagai segala sesuatu yang dicoba lakukan seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh. Dalam buku ini program diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang direncanakan dengan seksama dan pelaksanaannya berlangsung dalam suatu organisasi yang melibatkan banyak orang.
Evaluasi program menurut Joint Committe on Standars for Educational Evaluation (1981:12) Program evaluation that asses educational activities which probide service on a continuing basis and often involve curricular offerings. Program yang yang dibuat guru tidak selamanya efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik,maka diperlukan evaluasi pembelajaran yang dapat mengetahui kelemahan yang terjadi dan tidak terjadi lagi.

B.    Kegunaan Evaluasi Program Pembelajaran
     kegunaan utama evaluasi program pembelajaran yaitu :
1.      Mengomunikasikan Program kepada Publik           
2.      Menyediakan informasi bagi pembuat keputusan
Penyediaan informasi bagi pembuatan keputusan dapat dikelompokan menjadi tiga macam, menurut tujuanya, yaitu :
a.       Menunjang pembuatan keputusan tentang perencanaan atau penyusunan program pembelajan berikutnya.
b.      Menunjang pembuatan keputusan tentang kelangsungan atau kelanjutan program pembelajaran.
c.       Menunjang pembuatan keputusan tentang modifikasi program.
3.      Penyempurnaan program yang ada
4.      Meningkatkan Partisipasi

C.    Objek Evaluasi Program Pembelajaran
obyek atau sasaran evaluasi program pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1)      evaluasi masukan pembelajaran yang menekankan pada penilaian karakteristik peserta didik, kelengkapan dan keadaan sarana dan prasarana pembelajaran.
2)      Evaluasi proses pembelajaran menekankan pada penilaian pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh pembelajar.
3)      Penilaian hasil pemebelajaran untuk mengukur hasil belajar siswa dengan menggunakan tes maupun nontes. Lalu ada dua aspek yang mencakupnya yaitu, aspek marjinal tentang implementasi pembelajaran dan aspek subtansial tentang hasil belajar siswa.
Dalam konsep manajemen mutu, menurut Sudarwan Danim (2007:12-13) mutu pendidikan dilihat dari empat perspektif , yaitu masukan, proses, luaran atau prestasi belajar dan dampak atau utilitas lulusan.
Berdasarkan beberapa asumsi dan pendapat diatas, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa objek evaluasi program pembelajaran yang pokok harus mencakup dua hal :
1.      Aspek manajerial, yaitu implementasi rancangan pembelajaran yang telah disusun oleh guru dalam bentuk proses pembelajaran.
2.      Aspek substansial yaitu hasil belajar siswa setelah mengikuti serangkaian proses pembelajaran yang dirancang oleh guru.



D.    Evaluasi Proses Pembelajaran
1.      Sasaran
Sasaran evaluasi proses pembelajaran adalah pelaksanaan dan pengelolaan pembelajaran untuk memperoleh pemahaman tentang kinerja guru selama dalam pembelajaran.
2.      Tahapan Pelaksaan Evaluasi
Tahapan Pelaksaan Evaluasi proses pemebelajaran adalah penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan istrumen evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interprestasi dan tindak lanjut.
a)      Menentukan Tujuan
Tujuan evaluasi proses pembelajaran dapat dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan.
b)      Menentukan Desain Evaluasi
Desain evaluasi proses pembelajaran mencakup rencana evaluasi proses dan pelaksanaan evaluasi
c)      Menyusun Istrumen Penilaian
Istrumen penilaian proses pembelajaran untuk memperoleh informasi deskriptif atau informasi juggemental dapat terwujud.
d)     Pemgumpulan Data
Pemgumpulan data atau Informasi dilaksanakan secara objektif dan terbuka agardiperoleh informasi yang dipercaya dan bermanfaat bagi peningkatan mutu pembelajaran.
e)      Analisis dan Interprestasi
Analisis dan interprestasi dilaksanakan segera setelah data atau informasi terkumpul
f)       Tindak Lanjut
Tidak lanjut merupakan kegiatan menindak lanjuti hasil analisis dan interprestasi.



E.    Evaluator Program Pembelajaran
Ada dua macam yaitu evaluator dari dalam dan evaluator dari luar, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Evaluator dari dalam mempunyai kelebihan memahami betul program yang akan dievaluasi dan tepat pada sasaran, sedangkan kekurangannya jika pelaksanaannya terburu-buru akan mendapatkan hasil yang tidak sempurna. Evaluator dari luar merupakan orang yang tidak terkait dari implementasi program yang memiliki kelebihan, dapat bertindak secara efektif selama evaluasi dan mengambil kesimpulan sedangkan kekurangannya, orang yang dari luar tersebut belum memahami tentang program pembelajaran yang akan dievaluasi sehingga terjadi pemborosan waktu dan biaya untuk membayar evaluator tersebut.




BAB II
PENILAIAN HASIL BELAJAR

A.    Hasil Pembelajaran
Dalam pembelajaran ada dua aspek yaitu siswa dan guru, dari  proses pembelajaran dibedakan menjadi dua yakni output dan outcome. Output merupakan kecakapan yang dikuasai siswa setelah mengikuti pembelajaran atau hasil pembelajaran siswa. Output dibedakan lagi menjadi hard skills dan soft skills. Hard skills  merupakan kecakapan yang relatif lebih mudah untuk pengukuran. Hard skills dibedakan menjadi dua yaitu kecakapan akademik (academic skills) dan kecakapan vokasional (vocational skills). Kecakapan akademik mencakup bidang ilmu yang dipelajari misalnya menghitung, menguraikan, menganalisis, mendeskripsi, dan hal lainnya yang menyangkut ilmu bidang pengetahuan. Sedangkan kecakapan vokasionalis sering disebut juga kecakapan kejujuran, yaitu tentang bidang pekerjaan tertentu misalnya seni dan bidang tertentu lainnya. Soft skills merupakan strategi yang diperlukan untuk meraih kesuksesan hidup dan kehidupan dalam masyarakat. Soft skills dibedakan menjadi dua, yaitu kecakapan personal (personal skills) dan kecakapan sosial (social skills). Kecakapan personal digunakan untuk memudahkan beradaptasi pada siswa dan hal personal lainnya sedangkan kecakapan sosial untuk kehidupan bermasyarakat terutama dalam persaingan yang ada.

B.     Pengertian Penilaian
     Penilaian (asessment) hasil belajar merupakan komponen penting dalam kegiatan pemebelajaran. Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas sistem penilaiannya. Menurut Djemari Mardapi (2008:5) kualitas pembelajaran dpat dilihat dari hasil penilaiannya. Sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan motivasi prestasi didik untuk belajar yang lebih baik.
Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respon seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan ( Djemari Mardapi, 2008:67).
Menurut Chittenden (Djemari Mardapi, 2008:6) kegiatan penilaian dalam proses pembelajaran perlu diarahkan pada empat hal :
a.       Penelusuran, untuk menelusuri apakah proses pembelajaran telah berlangsung sesuai yang direncanakan atau tidak.
b.      Pengecekan, untuk mecari informasi apakah terdapat kekurangan pada peserta didik selama proses pembelajaran.
c.       Pencarian, untuk mencari dan menemukan penyebab kekurangan yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung.
d.      Penyimpilan, untuk menyimpulkan tentang tingkat pencapaian belajar yang telah dimiliki oleh peserta didik. 

C.    Fungsi Penilaian dalam Pendidikan
Ada beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, baik tes maupun nontes. Diantara fungsi penilaian tersebut adalah:
1.      Dasar mengadakan seleksi yakni untuk keputusan orang yang akan diterima atau tidak dalam suatu proses, misalnya dalam penerimaan murid baru, dan kenaikan kelas siswa,
2.      Dasar penempatan untuk mengetahui di kelompok mana seorang siswa ditempatkan, digunakan penilaian misalnya seorang siswa yang mempunyai nilai yang sama akan dikelompokkan dengan kelompok yang sama dalam belajar,
3.      Diagnostik untuk guru mengetahui tentang kelebihan dan kekurangan serta kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran, dengan itu akan mudah diketahui cara mengatasinya,
4.      Umpan balik merupakan hasil suatu pengukuran skor tes tertentu yang dapat digunakan sebagai umpan balik, agar guru berusaha untuk memberi semangat kepada siswa,
5.      Menumbuhkan motivasi belajar dan mengajar, memberikan semangat kepada siswa yang mempunyai hasil tes yang kurang baik serta memberikan motivasi pada saat pembelajaran,
6.      Perbaikan kurikulum dan program pendidikan , perbaikan ini baik untuk mengetahui nilai siswa sehingga dapat memperbaiki segala kekurangan yang ada pada saat pembelajaran,
7.      Pengembangan ilmu, ini tergantung dari hasil tes siswa dan pengembangan pendidikan ilmu sangat penting sekali agar hasil tes siswa lebih baik.

D.    Pentingnya Penilaian Hasil Belajar
Menurut Suharsimi (2008: 6-8) guru maupun pendidik lainnya perlu mengadakan penilaian terhadap hasil belajar siswa karena dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan penilaian hasil belajar mempunyai makna yang penting, baik bagi siswa, guru maupun sekolah. Adapun makna penilaian bagi ketiganya sebagai berikut:
Makna bagi siswa ada dua kemungkinan yaitu memuaskan, jika memperoleh nilai yang baik, dan tidak memuaskan karena memperoleh nilai yang tidak memuaskan. Makna bagi guru berdasarkan hasil  nilai yang  diperoleh, guru mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya, karena sudah mencapai krerteria ketuntasan minimal (KKM) sudah tersampaikan dengan baikkah materi pembelajaran, dan mengetahui strategi pembelajaran yang digunakan sudah mencapai sasaran atau belum. Makna bagi sekolah, dapat mengetahui bagaimana hasil belajar siswa, sekolah sudah memenuhi standar atau belum, informasi yang diperoleh dapat dijadikan pertimbangan sekolah untuk menyusun program pendidikan disekolah untuk masa yang akan datang.

E.     Ciri-ciri Penilaian dalam Pendidikan
            Menurut Suharsimi Arikunto (2008:11-18) ada lima ciri penilaian pendidikan, yaitu : penilaian dilakukan secara tidak langsung menggunakan ukuran kuantitatif, menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap, bersifat relatif, dan dalam penilaian pendidikan sering terjadi kesalahan.
1.      Penilaian dilakukan secara tidak langsung
Sebagai contoh untuk mengukur sikap siswa terhadap mata pelajaran IPS, kita dapat mengukur dari indikator / gejala yang tampak (observable indicator).
2.      Menggunakan ukuran kuantatif
Penilaian Pendidikan bersifat kuantitatif, artinya menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu di interprestasikan ke bentuk kualitatif. 
3.      Menggunakan unit atau satuan yang tetap
4.       Bersifat relatif
Artinya hasil penilaian untuk objek yang sama dari waktu ke waktu dapat mengalami perubahan karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhinya.
5.      Dalam penilaian pendidikan sering terjadi kesalahan.
Adapun sumber kesalahan (error) tersebut dapat ditinjau dari berbagai faktor :
a.       Alat Ukurnya
b.      Orang yang melakukan Penilaian
c.       Anak yang dinilai
d.      Situasi pada saat penilain berlangsung





BAB III
INSTRUMEN TES

A.    Pengertian Tes
Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Tes merupakan bagian tersempit dari penilaian. Menurut Djemari ( 2008:67) tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan. Tes juga dapat diartikan sebagai sejumlah pertanyaan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aaspek tertentu dari orang yang dikenai tes.

B.     Bentuk-bentuk Tes
Bentuk tes yang digunakan dilembaga pendidikan di lihat dari sistem penskorannya dapat dikata gorikan menjadi dua, yaitu tes objektif  dan tes subjektif. Tes objektif memberi pengertian bahwa siapa saja yang memeriksa lembaran jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama.  Skor tes ditentukan oleh jawaban yang diberikan oleh peserta tes.  sedangkan tes subjektif adalah tes yang penyekorannya dipengaruhi oleh yang memberi skor. Jawaban yang sama dapat memiliki skor yang berbeda oleh pemberi skor yang berlainan. Diantara subjektivitas yang dapat memengaruhi hasil penyekoran hasil tes di antaranya adalah :
a.      Ketidak Konsistenan Penilai
b.     Hallo Effect
c.      Pengaruh Urutan Pemeriksaan
d.     Pengaruh Bentuk Tulisan dan Bahasa.

C.    Tes Objektif
Pengertian tes objektif dalam hal ini adalah nemtuk tes yang mengandung kemungkinan jawab atau respon yang harus dipilih oelh peserta tes.  Dengan demikian skor hasil tes dapat dilakukan secara objektif.
a.       Kelebihan Tes Objektif
1)      Lebih representatif mewakili isi dan luas halaman
2)      Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
3)      Pemeriksaanya dapat diserahkan pada orang lain
4)      Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif
b.      Kelemahan Tes Objektif
1)      Membutuhkan persiapan yang lebih sulit
2)      Butir-butir soal cenderung mengungkap ingatan kembali
3)      Banyak kesempatan bagi siswa untuk spekulasi
4)      Kerjasama antara siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka
c.       Cara mengatasi kelemahan
1)      Banyak berlatih menyusun soal tes secara terus menerus
2)      Menggunakan tabel spesifikasi
3)      Menggunakan norma penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan
Secara Umum ada tiga tipe tes objektif, yaitu :
a.       Benar salah ( true false)
b.      Menjodohkan (matching)
c.       Pilihan Ganda (multiple choice)

D.    Tes Subjektif
Tes subjektif, pada umumnya berbentuk uraian (esai). Tes bentuk uraian adalah butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes ( Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution. 2005:37).
Ciri-ciri pertanyaan didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, bandingkan, mengapa, bagaimana, simpulkan dan sebagainya ( suharsimi Arikunto. 2008:162).
Berdasarkan tingkat kebebasan peserta tes untuk menjawab soal tes uraian, secara umum tes uraian dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu :
a.       Tes Uraian Bebas ( Extended Response Test )
b.      Tes Uraian Terbatas ( Restricted Response Test)

E.    Pengembangan Tes
Ada sembilan langkah yang perlu ditempuh dalam mengembangkan tes hasil belajar (Djemari Mardapi. 2008: 88-97). Kesembilan langkah tersebut adalah:
1)      Menyusun spesifikasi tes
Langkah awal dlam mengembangkan tes adalah menetapkan spesifikasi tes, yaitu yang berisi uraian yang menunjukan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu tes. Penyusunan spesifikasi tes mencakup kegiatan :
a.       Menentukan Tujuan tes
b.      Menyusun kisi-kisi tes
c.       Memilih bentuk tes
d.      Menentukan panjang tes
2)       Menulis soal tes
Menentukan soal dilakukan setelah langkah pertama yaitu menyusun spesifikasi tes dilakukan. Penulisan soal merupakan langkah menjabarkan indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan perincian pada kisi-kisi yang telah dibuat.
3)      Menelaah soal tes
Hal ini perludilakuakn untuk memperbaiki soal jika ternyata dalam pembutannya masih ditemukan kekurangan dan kesalahan telah dipersiapkan dengan baik.
4)      Melakukan uji coba tes  
Uji coba ini dapat digunakan sebagai sarana memperoleh data empirik yang tingkat kebaikan soal yang telah disusun.
5)      Menganalisis butir soal tes
6)       Memperbaiki tes
7)      Merakit tes
8)      Melaksanakan tes
9)      Menafsirkan hasil tes

F.     Karakteristik Tes yang Baik
Suharsismi Arikunto (2008: 57-62) menyatakan bahwa suatu tes dapat dikatakan baik apabila memenuhi lima syarat yaitu:
1)      Validitas merupakan ketepatan,  tes yang sebagai alat ukur dikatakan valid jika tes itu tepat pada hasil belajar dan akan menghasilkan yang valid pula.
2)      Reliabilitas, jika memberikan hasil yang tetap dari suatu tes, tidak terpengaruh oleh apapun.
3)      Objektifitas berarti tidak ada unsur pribadi yang mempengaruhinya, tidak ada unsur subjektifitas yang mempengaruhi tes tersebut.
4)      Praktikabilitas, tes ini merupakan tes yang praktis, mudah dan tidak mengecoh. Mudah pelaksanaannya, mudah diperiksa, dan dilengkapi dengan petunjuk sehingga dapat diberikan kepada orang lain.
5)      Ekonomis, bahwa pelaksanaan tes tidak membutuh biaya yang mahal dan tidak membuang waktu.




BAB IV
INSTRUMEN NON TES

Instrumen untuk memperoleh informasi hasil belajar non-tes terutama digunakan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skills dan vocational skills, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari pada apa yang di ketahui atau dipahaminya.
Dengan demikian instrumen non-tes merupakan bagian dari alat ukur hasil belajar peserta didik. Instrumen non tes yang umum digunakan dalam menilai hasil belajar antara lain,  participation charts, checking lists, rating scale, dan attitude scales. ( Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution. 2005:102).

A.    Bagan Partisipasi (participation charts)
Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran adlah keikutsertaan peserta didik secara suka rela dalam kegiatan pembelajaran.
Partisipasi peserta didik dalam suatu proses pembelajaran harus diukur karena memiliki informasi yang sangat kaya tentang hasil belajar yang bersifat nonkognitif. Participation charts dapat menjelaskan hasil belajar yang lebih bersifat afektif, yaitu keinginan untuk ikut serta. Instrumen ini terutama berguna untuk mengamati kegiatan diskusi kelas. Participation charts belum cukup untuk menarik kesimpulan yang memadai. Untuk itu haruslah dipakai bersama-sama dengan instrumen lain.

B.     Daftar Cek (checking lists)
Check list pada dasarnya mempunyai kemiripan bentuk dengan rating scale. Perbedaanya adalah dalam esensi dan penggunaanya. Dalam rating scale esensinya  adalah untuk menentukan drajat atau peringkat dari suatu unsur komponen, trait, karakterisrik atau orang, baik dalam bandinganya suatu kriteria tertentu maupun dibandingkan dengan anggota kelompok yang lain.
Checking lists sangat bermanfaat untuk mengukur hasil belajar, baik yang berupa produk maupun proses yang dapat diperinci ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, terdefinisi secara operasional dan sangat spesifik. Checking lists terdiri dari dua komponen, yaitu komponen yang akan diamati dan tanda yang menyatakan ada atau tidaknya komponen tersebut selama observasi. Kelebihan checking lists adalah sangat fleksibel untuk mengecek kemampuan untuk semua jenis dan tingkat hasil belajar serta semua mata pelajaran. Mutu check list  akan tergantung pada kelengkapan dan kejelasan komponen yang dinyatakan dalam daftar untuk bidang  dan jenis untuk menandai ada atau tidaknya komponen tersebut dalam tingkah laku peserta didik yang diamati.

C.    Skala Lajuan (rating scale)
Pengertian rating scale  adalah instrumen pengukuran non-tes yang menggunakan suatu prosedur terstuktur untuk memperoleh informasi tentang suatu yang diobservasi yang menyatakan posisi tertentu dalam hubunganya dengan yang lain (Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution. 2005:112).
Rating scale terdiri dari dua bagian, yaitu pernyataan tentang kualitas keberadaan sesuatu dan petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut. Ada empat tipe rating scale , yaitu numerical rating scale, descriptive graphic rating scale, rangking method rating scale, dan paired comparisons rating scale. Dari empat tipe tersebut, numerical rating scale dan descriptive graphic rating scale paling banyak digunakan.

D.    Skala Sikap
Untuk dapat memahami pengukuran sikap, pertama-tama harus dikusai pengertian sikap. Johson & Johson (2002:168) mengartikan sikap sebagai: “ an attitude is a positive or negative reaction to a person, object, or idea”.  
Untuk menilai sikap seseorang terhadap objek tertentu dapat dilakukan dengan melihat respons yang di teramati dalam mengjadapi objek yang bersangkutan. Respos seseorang dalam menghadapi suatu objek menurut Eagly & Chaiken (1993:10) dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, cognitive response, affective response dan behavioral response.   

Ada beberapa bentuk skala sikap, antara lain:
a)      Skala Likert
Prinsip pokok skala likert adalah menentukan lokasi kedudukan seseorang dalam suatu kontinum  sikap terhadap objek sikap, mulai dari sangat negatif sampai dengan sangat positif.
b)      Skala Thurstone
Skala Thurstone merupakan skala mirip descriptive grapic rating scale karena merupakan suatu istrumen yang responsnya dengan memberi tanda tertentu pada suatu kontinum baris.
c)      Skala Guttman
Skala ini berupa sederetan pernyataan oponi tentang suatu objek secara terurutan. Respons diminta untuk menyatakan pendapatnya tentang pernyataan itu (setuju atau tidak setuju).
d)     Semantic Differential
Instrumen yang disusun oleh Osgood dan kawan-kawan ini mengukur konsep-konsep tida dimensi. Skala ini tepat untuk mengukur minat atau pendapat siswa mengenai suatu kegiatan atau topik dari suatu mata pelajaran.

E.     Penilaian Berbasis Portofolio
Penilaian berbasis portofolio merupakan pendekatan baru yang akhir-akhir ini sering diperkenalkan para ahli pendidikan untuk dilaksanakan di sekolah selain pendekatan penilaian yang telah lama digunakan. 
Portofolio biasanya karya pilihan dari seorang siswa. Penentuan karya terpilih seorang siswa yang dianggap paling baik ditentukan bersama siswa dan guru. Portofolio seorang peserta didik biasanya memuat:
1)      Hasil ulangan atau tes
2)      Tugas-tugas terstruktur
3)      Catatan perilaku harian para siswa
4)      Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang pembelajaran

Penilaian berbasis portofolio memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
a)      Perubahan paradigma penilaian
b)      Bertanggung jawab kepada siswa, orang tua dan masyarakat
c)      Melibatkan orang tua
d)     Peserta didik bisa menilai dirinya sendiri
e)      Fleksibel

Sedangkan beberapa kekurangannya antara lain:
a)      Perlu waktu relatif lama
b)      Reliabilitas rendah
c)      Guru berorientasi pada pencapaian hasil akhir
d)     Belum ada kriteria penilaian baku
e)      Memerlukan tempat penyimpanan yang memadai

Prinsip dasar penilaian berbasis portofolio
Prinsip-prinsip dasar penilaian dimaksud adalah penilaian proses dan hasil, penilaian berkala dan berkelanjutan serta penilain yang adil. Prinsip-prinsip dasar penilaian ada tiga di antaranya, adalah :
a)      Prinsip Penilaian Proses dan Hasil
b)      Prinsip Penilaian Berkala dan Berkelanjutan 
c)      Prinsip Penilaian yang Adil 




BAB V
VALIDITAS DAN RELIABILITAS

Kegiatan menilai dapat diibaratkan kegiatan memotret. Dalam memotret memerlukan alat potrenya. Data yang baik adalah data yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya dan data tersebut bersifat tetap, ajek atau dapat dipercaya. Dan data yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya disebut data yang valid.

A.    Validitas Instrumen
Instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur. Dengan kata lain validitas berkaitan dengan ‘ketepatan” dengan alat ukur. Dengan istrumen yang valid akan menghasilkan data yang valid pula. Atau dapat juga dikatakan bahwajika data yang dihasilkan dari sebuah istrumen, maka istrumen itu juga valid.
Validitas instrumen secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu :
1)      Validitas Internal
Validitas internal, disebut juga validitas logis. Instrumen yang memenuhi syarat valid berdasarkan penalaran. Validitas intrernal dibedakan menjadi dua, yaitu :
a)      validitas isi
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi jika dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi / isi pelajaran. Berkaitan dengan sejauh mana tes mencakup keseluruhan materi / bahan yang ingin diukur.
b)      validitas konstruk.
Sedangkan sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruk bila butir-butir soal mengukur sejauh mana instrumen mengukur konsep dari suatu teori.



2)      Validitas eksternal
disebut juga validitas empiris validitas yang kreteria validitasnya didasarkan pada kriteria yang ada pada istrumen itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka validitas eksternal dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a)      Validitas Kesejajaran
Istrumen dikatakan validitas sejajaran apa bila hasilnya sesuai dengan kriteria yang sudah ada.
b)      Validitas Prediksi
Memprediksi artinya mempirkirakan / meramal mengenai hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebuah istrumen dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang mengenai hal sama.

3)      Cara Mengetahui Validitas Istrumen
Cara yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah dengan mengorelasikan hasil pengukuran dengan kriteria. Kriteria yang digunakan sebagai patokan untuk menilai validitas sebuah istrumen pengukuran dapat berupa hasil tes yang sudah terstandar atau catatan dilapangan tentang sesuatu yang diukur.

4)      Validitas Butir Istrumen
Suatu butir istrumen dikatakan valid apabila memiliki sumbangan yang besar terhadap skor total. Dengan kata lain mempunya validitas yang tinggi jika skor pada butir mempunya kesejajaran pada skor total.

B.     Rellabilitas  Instrumen
Alat ukur yang hasil pengukuranya bersifat tetap dikatan alat ukur tersebut mempunya reabilitas yang baik.
Instrumen dikatakan reliabel jika memberi hasil yang tetap apabila dites berkali-kali. Ada dua jenis reliabilitas, yaitu :

1)      Reliabilitas Eksternal
Untuk menguji reliabilitas eksternal dapat digunakan metode bentuk paralel dan metode tes berulang.
a)      Metode bentuk Paralel
Metode paralel dilakukan dengan cara menyusun dua istrumen yang hampir sama, kemudian di uji cobakan pada kelompok responden yang sama kemudia hasil uji coba tersebut di korelasikan dengan tehnik korelasi product moment.
b)      Metode Tes Berulang
Metode ini dilakukan untuk menghindari penyusunan instrumen dua kali.

2)      Reliabilitas Internal
Teliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali pengumpulan data. Berdasarkan sistem pemberian nilai, ada dua metode analisis reliabilitas eksternal  yaitu :
a)      Instrumen Skor Diskrit
b)      Instrumen Skor Nondiskrit

C.    Analisis validitas dan reliabilitas Mengunakan Komputer
Analisis validitas dan reliabilitas juga dapat dilakukan dengan menggunakan komputer, yaitu dengan program SPSS for Windows.




BAB VI
MODEL-MODEL EVALUASI PROGRAM

Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat dipakai dalam mengevaluasi program pembelajaran, diantaranya:

A.    Evaluasi Model Kirkpatrick
Mencakup  empat level evaluasi, yaitu: (a) evaluasi reaksi, (b) evaluasi belajar, (c) evaluasi perilaku, dan (d) evaluasi hasil. Memiliki kelebihan antara lain:
a)      lebih komprehensif
b)      objek tidak hanya hasil belajar
c)      mudah diterapkan

memiliki beberapa kekurangan, di antaranya:
a)      kurang memerhatikan input
b)      mengukur impact sulit

B.     Evaluasi Model CIPP (Context, Input, Process and Product)
Digolongkan menjadi empat dimensi:
a)      Evaluasi konteks
Evaluasi konteks merupakan gambaran dan spesifikasi tentang lingkaran program, kebutuhan yang belum dipenuhi, karakteristik populasi dan  sampel dari individu yang dilayani dan tujuan program
b)      Evaluasi masukan
Membantu mengukur keputusan menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mecapai tujuan, bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.
c)      Evaluasi proses
Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasinya, menyediakan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi.
d)     Evaluasi produk
Evaluasi produk dari hasil evaluasi proses di harapkan dapat membantu pimpinan proyek atau guru untuk membuatkan keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir maupun modifikasi program.

C.    Evaluasi Model Wheek dari Beebe
Terdiri dari beberapa tahap yang berkaitan, yaitu analisis tugas pelatihan, perancangan tujuan, pengorganisasian isi, penentuan metode, pemilihan staf pelatihan, penyelesaian rencana pelatihan, pelatihan, dan penilaian pelatihan.

D.    Evaluasi Model Provus (Discrepancy Model)
Dapat dilakukan dengan membandingkan dengan apa yang seharusnya terjadi (standard) dengan apa yang sebenarnya terjadi (performance) sehingga dapat diketahui ada tidaknya kesenjangan (discrepancy) antara keduanya.

E.     Evaluasi Model Stake (Countenance model)
Menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu description dan judgement dan membedakan adanya tiga tahap dalam proses pendidikan, yaitu antecedent (context), transaction (process), dan outcomes.

F.     Evaluasi Model Brinkerhoff
Mengemukakan tiga golongan evaluasi yaitu:
a)      Fixed vs emergent evaluation design
b)      Formative vs sumative evaluation
c)      Experimental design vs naural / unobtrusive
Selain beberapa model di atas, Nana Sudjana dan Ibrahim mengelompokkan model-model evaluasi menjadi 4 kelompok, yaitu:
1.      Measurement model
2.      Congruence model
3.      Educational system evaluation model
4.      Illuminative model.



























BAB VII
MODEL EVALUASI KUALITAS DAN OUTPUT PEMBELAJARAN (MODEL EKOP)

A.    Hakikat Evaluasi Model Ekop
Evaluasi Model EKOP merupakan hasil penelitian hibah bersaing yang sekaligus tugas akhir studi penulis di program S3 penelitian dan Evaluasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta pada 2008. Model Ekop merupakan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama dua tahun. Model tersebut telah diujicobakan sebanyak tiga tahap dengan subjek uji coba berjumlah 736, terdiri dari kepala sekolah 5 orang, wakil kepala sekolah 5 orang, guru IPS 19 orang, siswa SMP 701 orang, mahasiswa S3 PEP 6 orang. Model Ekop pada masa uji coba difokuskan pada program pembelajaran IPS di SMP, namun demikian dalam implementasi berikutnya dapat dimodifikasi untuk semua mata pelajaran  di SLTP dan SLTA.  Modifikasi dapat dilakukan pada : isi instrumen kualitas pembelajaran dan output pembelajaran.
Model ini menggunakan metode pendekatan penilaian proses dan hasil. Penilaian proses pembelajaran dalam hal ini disebut dengan penilaian kualitas pembelajaran, sedangkan penilaian hasil pembelajaran dibatasi dengan penilaian output pembelajaran, sehinggga nama model ini disebut dengan model Evaluasi Kualitas dan Output Pembelajaran ( Model EKOP ). Model ini merupakan modifikasi dari Kirkpartrick evaluation model dan model CIPP (Contex, Input, Process, Product) dari Stufflebeam.
Implementasi Kirkpartrick evalution modeldalam bidang program pembelajaran perlu dimodifikasi, modifikasi difokuskan pada dua hal, yaitu :
1.      Level evaluasi. Evaluasi efektivitas program training dilakukan pada seluruh level dari empat level yang ada, sedangkan pada model Ekop hanya dua level yang digunakan, yaitu reaction dan learning.
2.      Cakupan evaluasi kualitas pembelajaran diperluas dibandingkan dengan level reaction. Perluasan meliputi penambahan aspek yang dinilai, sehingga pada level kualitas pembelajaran yang dinilai meliputi aspek : kinerja guru dalam kelas, fasilitas belajar, iklim kelas, sikap siswa, dan motivasi belajar siswa.

B.     Kerangka Pikir Model Ekop
Evaluasi model Ekop disusun berdasarkan kerangkan pikir bahwa untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran, khususnya IPS di tingkat SMP tidak cukup hanya menilai output belajar siswa semata, namun perlu menilai proses implementasi program dalam kelas, yang dalam penelitian ini disebut dengan kualitas pembelajaran. Hal ini perlu dilakukan karena bagaimanapun juga dalam setiap program kegiatan, output program selalu dipengaruhi oleh proses kegiatan itu sendiri, begitu juga dalam program pembelajaran. Penilaian terhadap output pembelajaran IPS tidak hanya aspek kecakapan akademik saja tetapi juga menjangkau penilaian terhadap kecakapan personal dan kecakapan sosial siswa.
Hakikat proses pembelajaran adalah merupakan interaksi antara guru dengan siswa yang terjadi dalam konteks ruang kelas tertentu dengan dukungan fasilitas pembelajaran tertentu. Kinerja guru yang baik akan mempunyai pengaruh terhadap : iklim kelas, sikap dan motivasi belajar siswa serta hasil belajar siswa. Iklim kelas yang baik akn mempunyai pengaruh terhadap sikap dan motivasi belajar serta hasil belajar siswa. Sikap positif siswa mempunyai pengaruh terhadap motivasi dan hasil belajar siswa, sedangkan motivasi mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan belajar IPS siswa.

C.    Karakteristik Model Ekop
Model EKOP memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Model ini digunkan untuk mengevaluasi program pembelajaran.
2.      Pengumuman model ini tidak tergantung pada setting maupun konteks kurikulum formal yang berlaku, dengan kata lain dapat diterapkan pada pembelajaran berbasis kompetensi, berbasis masyarakat maupun lainnya.
3.      Penggunaan model ini tidak tergantung pada pendekatan pengajaran tertentu yang dilaksanakan oleh guru.
4.      Model ini mengevaluasi program pembelajaran secara lebih komprehensif (mengevaluasi proses sekaligus output pembelajaran).
5.      Model ini dapat digunakan sebagai evaluasi diagnostik (diagnostic evaluation) untuk menemukan dan memetakan berbagai aspek dalam pembelajaran IPS (proses maupun output) yang perlu diperbaiki.
6.      Model ini dapat dimodifikasi untuk kepentingan di tingkat SLTP dan SLTA.
7.      Model ini bersifat terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut.

D.    Komponen-Komponen Model Ekop
Komponen dalam Model Ekop ada dua, yaitu kualitas pembelajaran dan output pembelajaran. Aspek kualitas pembelajaran meliputi

E.     Kelebihan dan Keterbatasan Model EKOP
Di bandingkan dengan model evaluasi program pelabelajan yang salama ini dipakai disekolha, model EKOP memiliki Kelebihan sebagai berikut :
a)      Lebih komprehensif
b)      Relatif sederhana
c)      Tidak begitu kompleks
d)     Tidak terikat pada materi tertentu
e)      Efektif
f)       Sejalan dengan KTSP
Evaluasi model EKOP selain memiliki beberapa kelebihan juga memiliki beberapa keterbatasan sebagai berikut :
a)      Hanya melibatkan penilai intern
b)      Instrumen pada aspek kecakapan personal masih terbatas
c)      Instrumen pada aspek kecakapan sosial juga masih terbatas



























BAB VIII
PERANGKAT EVALUASI MODEL EKOP

A.    Instrumen kualitas pembelajaran
Instrument kualitas pembelajaran IPS dibedakan menjadi lima komponen, yaitu : kinerja guru dalam kelas, fasilitas pembelajaran IPS, iklim kelas, sikap siswa dan motivasi belajar siswa. Kinerja guru dibedakan menjadi 5 sub komponen, yaitu : penguasaan konsep/materi IPS, pemahaman karakteristik siswa, penguasaan pengelolaan pembelajaran, penguasaan strategi pembelajaran dan penguasaan penilaian hasil belajar. Fasilitas pembelajaran dibedakan menjadi empat sub-komponen, yaitu : kondisi ruang pembelajaran, kelengkapan media pembelajaran IPS, kondisi media pembelajaran IPS, dan kelengkapan buku maupun sumber pelajaran IPS. Iklim kelas dapat dibedakan menjadi 4 sub-komponen, yaitu : kekompakan siswa dalam kelas, keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPS, kepuasan siswa mengikuti pelajaran IPS. Sikap siswa terhadap pelajaran IPS dapat dibedakan menjadi tiga sub komponen, yaitu : pemahaman manfaat pelajaran  IPS (kognisi), rasa senang terhadap pelajaran IPS (afeksi) dan kecendrungan bertindak (konasi) dalam pembelajaran IPS. Motivasi belajar dapat dibedakan menjadi 5 sub komponen, yaitu : orientasi pada keberhasilan, antisipasi kegagalan, onovasi, dan tanggung jawab.
Instrumen penilaian kualitas pembelajaran IPS berdasarkan respondennya dibedakan menjadi dua, yaitu instrumen dengan responden siswa dan guru IPS. Instrumen dengan responden siswa mencakup penilaian terhadap kelima komponen kualitas pembelajaran, yaitu : kinerja  guru dalam kelas, fasilitas pembelajaran, iklim kelas, sikap dan motivasi belajar siswa. Instrumen dengan responden guru IPS mencakup penilaian terhadap dua komponen kualitas pembelajaran, yaitu kinerja guru dan fasilitas pembelajaran IPS.

BAB VIII
PERANGKAT EVALUASI MODEL EKOP

A.    Istrumen Kualitas Pembelajaran
Instrumen kualitas pembelajaran IPS dibedakan menajdi lima komponen, yaitu : kinerja guru dalam kelas, fasilitas pembelajaran IPS, iklim IPS, sikap siswa dan motivasi belajar siswa.

B.     Instrumen Output Pembelajaran
Instrumen output pembelajaran IPS dibedakan menjadi tiga, yaitu kecakapan akademik, kecakapan personal, dan kecakapan sosial. Penilaian kecakapan akademik menggunakan hasil ujian akhir semester yang diselenggarakan bersama atas koordinasi dinas pendidikan kabupaten / kota setempat.

C.    Panduan Evaluasi Program Pembelajaran IPS
Untuk mempermudah mengunakan evaluasi program pembelajaran IPS di SMP dengan mengunakan model EKOP berikut ini di sajikan panduan evaluasi program pembelajaran model EKOP sebagai berikut :
1.      Petunjuk Umum
a.       Model digunakan untuk mengevaluasi program pembelajaran
b.      Penggunaan model ini tidak tergantung pada konteks kurikulum formal yang berlaku
c.       Penggunaan model ini tidak tergantung pada pendekatan maupunstrategi pengajaran yang digunakan oleh guru
d.      Model ini dapat digunakan untuk evaluasi formatif maupun sumatif
e.       Pelaksanaan evaluasi dapat digunakan oleh guru maupun kepalan sekolah
f.       Dapat digunakan mengevaluasi pengajaran yang berbentuk team
2.      Langkah-langkah evaluasi
a.       Guru menyusun rencana program pembelajaran secara lenagkap yang akan dilaksanakan dikelas.
b.      Melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan rancangan
c.       Mempersiapkan istrumen untuk mengukur kualitas pembelajaran
d.      Membagikan istruemn kualitas pembelajaran pada semua siswa
e.       Membagikan istrumen penilaian kinerja guru
f.       Mengadakan penilaian terhadap Output
g.      Evaluasi terhadap program yang telah dirancang dan dialaksanakan
h.      Merumuskan rekomendasi
3.      Rekomendasi hasil evaluasi
Bertujuan untuk memperbaiki program pembelajaran yang akan datang. Dan rekomendasi ditujukan kepada :
1.      Rekomendasi untuk guru
2.      Rekomendasi untuk sekolah
4.      Waktu pelaksanaan evaluasi
5.      Skoring instrumen

         












BAB IX
CONTOH IMPLEMENTASI MODEL EKOP

            Pada bab ini, pembaca akan disuguhkan sebuah contoh kasus implementasi model EKOP untuk dapat menghitung rerata skor kualitas pembelajaran, menghitung rerata skor output pembelajaran, menghitung rerata skor kualitas dan output pembelajaran, dan dibagian akhir pembaca diharapkan mampu menyusun laporan evaluasi model EKOP.




KESIMPULAN

Buku adalah sebuah alat untuk menempuh suatu pengetahuan, dimana buku sangat berharga bagi semua orang, terutama dilingkup perkuliahan yang selalu digunakan mahasiswa sebagai referensi atau panduan belajar mereka dalam setiap ilmu. Maka dengan itu, sebagai seorang mahasiswa diharuskan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya untuk memperluas wawasan berfikir dan sebagai wacana untuk menambah ilmu pengetahuan. Dalam mempelajari suatu buku ada banyak cara, dan masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang mempelajari dengan membaca, menghafal atau dengan meringkas buku. Akan tetapi menurut pendapat saya, meringkas adalah hal yang maksimal dikarenakan dengan meringkas, kita juga sekaligus membaca. Maka dengan diberikan tugas meringkas yang ditugaskan menambah ilmu pengetahuan saya dan memberikan suatu pengalaman yang sangat berarti untuk masa depan.
Buku yang saya ringkas adalah buku yang berjudul “Evaluasi Program Pembelajaran” yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Eko Putro Widoyoko, M.Pd dari penerbit pustaka pelajar. Alasan saya memilih buku tersebut adalah menurut saya buku tersebut sangatlah komplit dan berbagai referensi dari ahli bidang-bidangnya yang terkumpul dengan buku yang cukup tebal meliputi suharsimi Arikunto dan lain-lainnya.
Buku tersebut membahas semua yang berkaitan dengan evaluasi pembelajaran, yang meliputi : konsep dasar evaluasi, validitas, reliabilitas, validitas, instrumen evaluasi dan lain sebagainya yang sangat berguna bagi saya pada khususnya dan umumnya pada mahasiswa.
           


1 komentar:

Poskan Komentar